Investasi Rp574 Triliun Korea-Jepang: Momentum Emas atau Sekadar Angka di Atas Kertas bagi Daerah?

Prabowo-Subianto
Presiden Prabowo Subianto saat pertemuan bilateral di Seoul Korea Selatan terkait investasi Rp574 triliun energi hijau. Foto: Setkab RI

CIREBONINSIDER.COM– Kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Korea Selatan dan Jepang resmi ditutup dengan komitmen investasi fantastis senilai total Rp574 triliun.

Di balik gemerlap angka tersebut, publik di daerah—termasuk kawasan strategis Cirebon dan Indramayu—kini menanti bukti nyata: mampukah modal jumbo ini menggerakkan ekonomi akar rumput dan menyerap tenaga kerja lokal secara masif?

​Diplomasi Ekonomi: Korea Selatan Beri Komitmen Rp173 Triliun

​Kunjungan ke Seoul menghasilkan kesepakatan konkret melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) senilai USD10,2 miliar atau setara Rp173 triliun.

Baca Juga:Efek Domino Deal Prabowo-Lee di Seoul, Cirebon Bisa Jadi 'Pemain Kunci' Transisi EnergiInvestasi Langka Ramadan 2026: Mengapa Melewatkan Tarawih Kerugian Spiritual Terbesar?

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa capaian ini merupakan bentuk kepercayaan tinggi investor global terhadap stabilitas Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik.

​Fokus utamanya sangat futuristik: energi transisi hijau (green transition), pengembangan tenaga surya, hingga teknologi Artificial Intelligence (AI).

Bagi wilayah Jawa Barat Utara, khususnya yang bersinggungan dengan koridor industri Rebana, komitmen ini menjadi angin segar bagi percepatan industri manufaktur berbasis teknologi tinggi.

​Efek Domino Jepang dan Sektor Strategis

​Angka dari Korea Selatan melengkapi “investasi jumbo” sebelumnya dari Jepang sebesar USD23,6 miliar (Rp401 triliun). Sektor yang dibidik mencakup hulu migas di Proyek Masela hingga penguatan inklusi finansial.

​Namun, poin yang paling menarik bagi pelaku usaha daerah adalah masuknya minat investasi dari POSCO dan Lotte yang membuka peluang kolaborasi dengan Danantara (Sovereign Wealth Fund Indonesia).

Sinergi ini diharapkan mampu memangkas hambatan birokrasi (debottlenecking) yang selama ini sering dikeluhkan investor saat ingin berekspansi ke wilayah-wilayah penyangga.

​Menanti ‘Tetesan’ ke Cirebon dan Indramayu

​Meski angka Rp574 triliun terdengar sangat signifikan, tantangan sesungguhnya ada pada realisasi di lapangan. Jangan sampai komitmen ini hanya menjadi “pesta” di level pusat.

Baca Juga:Investasi Langka Ramadan 2026: Mengapa Melewatkan Tarawih Kerugian Spiritual Terbesar?Strategi Pemkab Indramayu, Cegah Pahlawan Devisa Terjebak Investasi Bodong Lewat Literasi Keuangan

​Masyarakat di koridor Cirebon-Indramayu perlu melihat keterlibatan konkret, terutama dalam pembangunan infrastruktur pendukung industri baterai dan transportasi ramah lingkungan.

Pemerintah dituntut untuk memastikan bahwa proses debottlenecking bukan hanya soal mempermudah izin bagi raksasa global, tapi juga soal proteksi dan pelibatan UMKM lokal dalam rantai pasok global tersebut.​Kini, bola panas ada di tangan pemerintah daerah untuk menjemput bola. Tanpa kesiapan regulasi lokal yang transparan dan peningkatan kualitas SDM, investasi Rp574 triliun ini hanyalah angka statistik yang lewat begitu saja tanpa meninggalkan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat di daerah.(*)

0 Komentar