CIREBONINSIDER.COM – Realisasi investasi Jawa Barat sepanjang tahun 2025 sukses mencetak rekor fantastis dengan menembus angka Rp296,8 triliun.
Capaian luar biasa ini tidak hanya melampaui target yang ditetapkan (109,9%), tetapi juga mengukuhkan posisi Jabar sebagai magnet investasi nomor satu di Indonesia dengan kontribusi 15,4% secara nasional.
​Namun, di balik gemerlap angka makro tersebut, sebuah tantangan klasik membayangi pertumbuhan ekonomi tahun 2026: ketimpangan ruang. Arus modal yang deras dinilai masih menumpuk di wilayah utara, sementara potensi besar di wilayah selatan masih tertinggal.
Baca Juga:Sasar Investasi Raksasa, Kemenkeu-Pemkab Cirebon ‘Lelang’ 82 Hektar Lahan Strategis CipernaTertibkan Pertek Penghambat, Presiden Prabowo Kawal Ambisi Investasi Rp13.000 Triliun
​Merespons kondisi ini, Komisi III DPRD Jawa Barat mendesak pemerintah provinsi untuk tidak terlena dengan euforia angka. Pemprov Jabar diminta bergerak cepat membenahi iklim investasi secara struktural, khususnya menggeser arah modal agar roda ekonomi di Jawa Barat Bagian Selatan ikut berputar kencang.
​Menguji Konsistensi “Juara Investasi” di Tahun 2026
​Ketua Komisi III DPRD Jawa Barat, Jajang Rohana, menegaskan bahwa mempertahankan posisi puncak jauh lebih sulit daripada meraihnya.
Tanpa adanya jaminan kepastian hukum, penyederhanaan birokrasi, dan kesiapan infrastruktur yang merata, tren positif pertumbuhan ekonomi ini bisa melandai pada 2026.
​“Supaya tidak turun, berarti nilai investasinya harus ditingkatkan, kemudahan, kepastian, iklim investasinya. Terus dukungan juga seperti infrastruktur supaya investor mau ke Jawa Barat,” ujar Jajang dalam keterangannya di Bandung.
​Merujuk pada data resmi, postur modal di Jabar sebenarnya berada dalam kondisi sehat dari aspek kepemilikan. Komposisinya bergerak seimbang antara Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp147,02 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang menyumbang Rp149,8 triliun.
​Kendati demikian, Jajang menggarisbawahi bahwa penyerapan tenaga kerja lokal sering kali belum optimal akibat adanya kesenjangan (gap) kompetensi.
Masuknya investasi raksasa wajib dibarengi dengan penguatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) lokal agar masyarakat daerah tidak sekadar menjadi penonton di tanah sendiri.
Baca Juga:Dedi Mulyadi: Kritik Jadi 'GPS' Pembangunan Jawa Barat, Bukan AncamanJabar Gelontorkan Rp2,28 Triliun: Investasi Infrastruktur demi Kemantapan Jalan 86,44%
​Mengurai Dominasi Utara dan Ambisi Metropolitan Rebana
​Realitas di lapangan menunjukkan, episentrum industri Jawa Barat masih sangat tersentralisasi di kawasan utara dan wilayah penyangga ibu kota.
Proyek strategis Pemprov Jabar saat ini bertumpu pada pengembangan Kawasan Rebana—sebuah megaproyek pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mencakup Cirebon, Subang, Majalengka, dan Indramayu yang difokuskan pada sektor industri manufaktur serta logistik terintegrasi.
