​Sengatan Baru Kuah Gomyang, Cara Indramayu dan IPB Sulap Bandeng Murah Jadi Kuliner Premium Kemasan

Bandeng-Cabut-Duri-Rasa-Kuah-Gomyang
Perwakilan Pemerintah Kabupaten Indramayu dan Tim IPB University berpose bersama sambil menunjukkan produk \"Bandeng Cabut Duri Rasa Kuah Gomyang\" kemasan pouch hasil kolaborasi hilirisasi perikanan. Foto: Istimewa /Doc Pemkab Indramayu 

CIREBONINSIDER.COM — Kuliner legendaris khas pesisir utara, Kuah Gomyang, kini resmi naik kelas. ​Lewat sentuhan teknologi pangan, masakan berselera pedas-asam yang biasanya hanya bisa dinikmati langsung di warung pinggir pantai Indramayu ini, kini disajikan dalam kemasan kantong (pouch) siap saji.

Bukan sekadar eksperimen dapur, inovasi ini menjadi senjata baru bagi hilirisasi perikanan daerah. ​Langkah taktis ini digulirkan oleh Pemerintah Kabupaten Indramayu melalui Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla), berkolaborasi dengan para pakar dari Institut Pertanian Bogor (IPB University).

​Melalui diseminasi teknologi, mereka meluncurkan produk “Bandeng Cabut Duri Rasa Kuah Gomyang dalam Kemasan Pouch”. Sasaran utamanya jelas: mendongkrak isi dompet para pembudidaya, pengolah, dan pelaku UMKM perikanan lokal yang selama ini kerap tercekik fluktuasi harga bandeng segar.

Baca Juga:​Lumbung Pangan Nasional Taruh Nasib, Lucky Hakim Bongkar Strategi Penyelamatan Petani IndramayuMengurai Angka Rp13 M Insentif Guru Madrasah Indramayu: Terbesar di Jabar, Segini Riilnya

​Memutus Rantai ‘Bandeng Murah’ di Pesisir Utara

​Selama dekade terakhir, Indramayu dikenal sebagai salah satu lumbung bandeng terbesar di Jawa Barat. Sayangnya, mayoritas hasil panen masih dijual dalam bentuk bahan mentah (segar). Masalah klasiknya seragam: saat panen raya tiba, harga bandeng di tingkat petambak kerap anjlok dramatis.

​Hilirisasi adalah harga mati yang tidak bisa ditunda lagi. ​Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu, Edi Umaedi, menegaskan bahwa ketergantungan pada penjualan bahan mentah harus segera diakhiri. Sektor perikanan Indramayu harus bergeser ke arah industri pengolahan bernilai tambah tinggi.

​”Potensi perikanan kita luar biasa melimpah. Namun, kesejahteraan nelayan dan pembudidaya tidak akan lompat jauh jika kita hanya menjual bandeng segar. Hilirisasi mutlak dilakukan. Mulai dari standarisasi mutu, pengemasan modern, hingga membuka akses pasar yang lebih luas,” ujar Edi tegas.

​Sentuhan Teknologi IPB: Awet Tanpa Pengawet

​Membawa kuliner tradisional berkuah ke dalam kemasan pouch bukan perkara mudah. Risiko basi, kebocoran kemasan, hingga hilangnya cita rasa otentik menjadi tantangan besar bagi pelaku UMKM.

​Di sinilah peran penting Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University masuk. Melalui Program EQUITY DAPT 2025/2026, dunia kampus turun langsung ke lapangan untuk memberikan solusi konkret berbasis riset ilmiah.

0 Komentar