CIREBONINSIDER.COM – Setelah sempat jeda selama libur panjang, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali bergulir serentak memasuki Tahun Ajaran Baru 2026/2027, Senin (13/7). Reaktivasi ini menjadi panggung pembuktian krusial bagi Badan Gizi Nasional (BGN) dalam menerapkan manajemen distribusi baru yang diklaim telah dibenahi total.
Kini, publik menanti pembuktian di lapangan. Saat peluncuran hari pertama di ibu kota diklaim berjalan tanpa hambatan berarti, wilayah penyangga dan daerah percontohan justru menyajikan cerita yang jauh lebih dinamis.
Jakarta Mulus di Titik Kritis
Di Jakarta, jajaran Deputi BGN langsung bergerak cepat menyisir belasan titik krusial. Mulai dari SDN Paseban 09, SMP 88 Jakarta, hingga dapur Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Gambir Duri Pulo.
Baca Juga:Tidak Ada Kompromi! Menkeu Purbaya Ancam Tutup Satuan Pelayanan Gizi Jika Berani Mainkan Anggaran MBGSengkarut Program MBG: Jual-Beli Titik SPPG Picu Pemborosan Rp1 Triliun Per Bulan, Manajemen Dirombak Total!
Pemantauan di ibu kota difokuskan penuh pada aspek window time—kepastian agar ribuan paket makanan tiba di meja siswa tepat waktu sebelum bel istirahat berbunyi. Hasilnya, fase awal reaktivasi di Jakarta ini terpantau meluncur mulus sesuai target operasional.
Bagaimana Nasib Dapur Ciayumajakuning?
Kontras dengan Jakarta, potret riil dan penuh tantangan justru tersaji di wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan). Sebagai salah satu lumbung percontohan nasional, wilayah ini memperlihatkan dinamika operasional yang beragam dari dapur-dapur garis depannya.
Di Kuningan, riak percontohan menunjukkan sinyal positif. Dapur SPPG Cigandamekar di kawasan Sangkanurip sukses membuktikan kesiapannya dengan operasional yang berjalan tanpa celah, menjaga ketat standardisasi higienitas dari proses memasak hingga distribusi ke tangan siswa.
Nada optimis juga datang dari Kabupaten Cirebon; SPPG Tegalsari 4 langsung tancap gas melakukan ekspansi dengan meluncurkan unit layanan baru di Plered demi memperluas jangkauan penerima manfaat.
Namun, rapor berbeda membayang-bayangi SPPG Pegambiran 1 di Kota Cirebon. Dapur pelayanan di wilayah ini menjadi sorotan tajam setelah sempat dipaksa ‘mati suri’ akibat keterlambatan pencairan dana operasional mingguan pada periode sebelumnya.
Momentum tahun ajaran baru ini pun otomatis berubah menjadi ujian berat: sejauh mana komitmen pusat dalam menjaga konsistensi likuiditas anggaran ke daerah agar dapur lokal tidak kembali mogok produksi.
