CIREBONINSIDER.COM – Kabupaten Kuningan kini berada dalam status alarm keras masalah lingkungan. Bagaimana tidak, dengan populasi menyentuh 1,2 juta jiwa, produksi sampah di daerah ini melonjak hingga hampir 500 ton per hari setiap kali akhir pekan tiba.
Di tengah kapasitas pengelolaan daerah yang masih jauh dari kata ideal, sebuah langkah radikal berbasis sains resmi diluncurkan untuk memutus mata rantai krisis ini. Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., melepas secara resmi ratusan mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif Tahun 2026 di Aula Lantai 3 Arya Kamuning Setda pada Rabu (15/7/2026).
Ini bukan KKN biasa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, enam perguruan tinggi besar di Kuningan bersatu padu mengepung satu wilayah krusial: Kecamatan Garawangi.
Baca Juga:Gempur Puluhan Ton Sampah Pasar Minggu Palimanan, DLH Cirebon Bidik Solusi Pakan Maggot BSFMenakar Potensi 'Bom Waktu' Sampah Makan Bergizi Gratis di Cirebon: DLH dan UMC Ambil Langkah Taktis
Enam kekuatan akademis yang berkolaborasi dalam gerakan ini adalah Universitas Kuningan (Uniku), Universitas Al-Ihya Kuningan, Universitas Muhammadiyah Kuningan, Universitas Bhakti Husada Kuningan, Politeknik Kesehatan KMC, dan Sekolah Tinggi Agama Islam Kuningan.
Senjata Sains: Mengubah Plastik Jadi BBM dan Paving Block
Mahasiswa tidak diterjunkan dengan tangan kosong atau sekadar melakukan program bersih-bersih konvensional. Mereka membawa persenjataan berupa teknologi tepat guna untuk langsung diterapkan di desa-desa Kecamatan Garawangi.
Saat meninjau pameran inovasi riset sebelum pelepasan, Bupati Dian dibuat terpukau oleh hasil karya Universitas Kuningan (Uniku). Di hadapannya, dipamerkan paving block tangguh berbahan dasar sampah plastik daur ulang.
Lebih radikal lagi, mahasiswa memamerkan teknologi pirolisis sederhana yang mampu menyuling limbah plastik menjadi bahan bakar alternatif setara BBM untuk menggerakkan mesin genset.
”Masyarakat hari ini tidak butuh penelitian muluk-muluk yang hanya berakhir berdebu di perpustakaan kampus. Yang kita butuhkan adalah inovasi terapan. Jika teknologinya sederhana, mudah dioperasikan, dan memberi manfaat instan, wajib kita replikasi di desa-desa,” tegas Bupati Dian Rachmat Yanuar dengan nada optimistis.
Melalui pendekatan ini, mahasiswa KKN dituntut bertindak nyata sebagai pemecah masalah, bukan lagi sekadar pelancong akademis yang numpang lewat di desa orang.
