​Kuningan Darurat 500 Ton Sampah, 6 Kampus Bersatu Sulap Limbah Plastik Jadi BBM Genset!

Bupati-Kuningan-Dian-Rachmat-Yanuar
Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar melihat langsung demonstrasi teknologi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif (BBM) oleh mahasiswa KKN Kolaboratif 2026 di Arya Kamuning Setda. Foto: Istimewa Doc Pemkab Kuningan 

​Tantangan pembangunan daerah yang kian kompleks dinilai tidak bisa lagi diselesaikan dengan cara-cara lama yang kaku. Bupati Dian menekankan pentingnya implementasi konsep kerja sama Hexahelix—sebuah kolaborasi erat yang melibatkan unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, tokoh masyarakat, media, hingga elemen warga itu sendiri.

​Pemerintah Kabupaten Kuningan pun tidak main-main dalam memberikan dukungan. Jika program kolaborasi enam kampus di Garawangi ini mampu membuktikan hasil yang valid, terukur, dan berdampak nyata bagi kesejahteraan warga, Bupati Dian menjanjikan dukungan pendanaan langsung yang bersumber dari APBD.

​Ia juga menitipkan pesan humanis kepada seluruh mahasiswa yang akan terjun ke lapangan. “Jangan pernah datang ke desa dengan sikap menggurui. Masuklah dengan pendekatan yang humanis. Belajarlah mendengar terlebih dahulu secara mendalam, baru kemudian tawarkan solusi terbaik berbasis sains yang kalian kuasai.”

Baca Juga:Gempur Puluhan Ton Sampah Pasar Minggu Palimanan, DLH Cirebon Bidik Solusi Pakan Maggot BSFMenakar Potensi 'Bom Waktu' Sampah Makan Bergizi Gratis di Cirebon: DLH dan UMC Ambil Langkah Taktis

​Misi Stunting, UMKM Naik Kelas, hingga Rumah Sayur Cirendang

​Selain berfokus pada penyelesaian krisis sampah, pasukan KKN Kolaboratif 2026 ini juga mengemban tiga misi prioritas pembangunan daerah yang tak kalah mendesak.

​Pertama, mereka bertugas melakukan akselerasi penurunan stunting melalui intervensi gizi berbasis data keluarga secara presisi.

Kedua, mengawal digitalisasi UMKM lokal agar pelaku usaha desa bisa naik kelas melalui perbaikan kemasan, penguatan identitas merek, hingga penetrasi ke pasar digital. ​

Ketiga, yang tidak kalah strategis, adalah mengunci potensi pangan lokal agar tidak bocor ke luar daerah.

Kuningan dikenal sebagai salah satu lumbung sayur subur, namun selama ini komoditas terbaiknya justru langsung dijual ke luar wilayah. ​Untuk mengatasi kebocoran ekonomi ini, Pemkab Kuningan tengah mempercepat pembangunan Rumah Sayur di Cirendang yang akan segera diresmikan sebagai pusat pemasaran hortikultura lokal.

​”Kami ingin masyarakat Kuningan bisa menikmati langsung sayuran berkualitas terbaik dari tanahnya sendiri. Target saya, tahun depan Kuningan sudah memiliki pasar sayur mandiri yang representatif dan megah,” pungkas Bupati Dian.

​Aksi nyata enam kampus di Kecamatan Garawangi ini diharapkan mampu menjadi proyek percontohan nasional. Sebuah bukti nyata bahwa tumpukan sampah dan masalah ekonomi desa bisa diurai tuntas jika laboratorium kampus mau turun langsung menyentuh tanah berlumpur.(*)

0 Komentar