​CIREBONINSIDER.COM — Program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang siap digulirkan tidak hanya membawa misi besar perbaikan gizi nasional.
Di balik ruang kelas, ada tantangan besar yang luput dari perhatian publik: potensi ledakan volume sampah sisa makanan (food waste) dan kemasan.​Merespons risiko lingkungan tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon bergerak cepat.
Langkah taktis ini diwujudkan melalui Focus Group Discussion (FGD) strategis bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), Jumat (22/5/2026).
Baca Juga:Darurat Sampah Makanan, Pemkab Cirebon Intervensi Sekolah lewat Gerakan Stop Boros PanganSinyal Kuat BGN: MBG Bisa Gerakkan Ekonomi Ciayumajakuning, Syaratnya Kampus Harus Turun Tangan
​Berlangsung di Meeting Room Lantai 2 Gedung Djuanda UMC, kolaborasi ini menandai komitmen nyata antara birokrat dan akademisi dalam melahirkan solusi tata kelola limbah berbasis riset yang aplikatif.
​Mengendus Risiko Food Waste Sejak Dini
​FGD ini menjadi ruang krusial untuk memetakan skenario awal penelitian terkait analisis pengelolaan limbah dari implementasi program Makan Bergizi Gratis di wilayah Kabupaten Cirebon.
​Sebagai program masif yang melibatkan ribuan porsi makanan setiap harinya, residu organik maupun anorganik yang dihasilkan dipastikan melonjak.
Tanpa sistem manajemen sampah yang terstruktur sejak dari dapur produksi hingga ke tangan siswa, beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Kabupaten Cirebon dikhawatirkan akan semakin kritis.
​Kepala DLH Kabupaten Cirebon, Dede Sudiono, menegaskan bahwa momentum ini harus menjadi titik balik transisi manajemen sampah modern di tingkat lokal.
​”Saya berharap kerja sama ini bisa menjadi bahan edukasi ke depan, bahwa penanganan limbah bisa menjadi produk recycle, reuse, dan reduce yang lebih bermanfaat, khususnya limbah sisa makanan,” ujar Dede usai penandatanganan kerja sama.
​Menurut Dede, paradigma lama yang melihat sisa makanan murni sebagai sampah buangan harus diubah. Melalui konsep ekonomi sirkular, limbah organik dari program MBG didorong untuk dikonversi menjadi produk baru bernilai guna, mulai dari pupuk kompos cair hingga pemanfaatan untuk budidaya maggot BSF.
Baca Juga:Filter Ketat di 43 Dapur Gizi Cirebon, Jamin Program MBG Bebas dari "Bom Waktu" Kimia​Tinggalkan Sistem Angkut-Buang, Cirebon Adopsi Teknologi 'Gedung Sate' Olah Sampah Jadi Briket
​Komitmen Kampus: Turun dari ‘Menara Gading’
​Dunia akademis kini dituntut tidak sekadar memproduksi teori. Rektor Universitas Muhammadiyah Cirebon, Arif Nurudin, menggarisbawahi bahwa persoalan riil di masyarakat seperti manajemen persampahan memerlukan intervensi sains agar penanganannya tidak bersifat tambal sulam.
