CIREBONINSIDER.COM — Status mentereng Kabupaten Indramayu sebagai produsen beras terbesar sekaligus penyokong utama lumbung pangan nasional kini berada di persimpangan jalan. Di tengah hantaman krisis iklim global dan ancaman kekeringan, sektor pertanian bumi Wiralodra dipaksa bergerak cepat atau tertinggal.
Isu krusial inilah yang mengemuka dalam Peringatan ke-54 Hari Krida Pertanian (HKP) tingkat Kabupaten Indramayu Tahun 2026.
Dipusatkan di Balai Benih Hortikultura Kebulen, Kecamatan Jatibarang, momentum tahunan ini tidak lagi menjadi sekadar seremoni formalitas. HKP ke-54 berubah menjadi panggung evaluasi dan konsolidasi besar-besaran untuk menyelamatkan nasib ratusan ribu petani di lapangan.
Baca Juga:Mengurai Angka Rp13 M Insentif Guru Madrasah Indramayu: Terbesar di Jabar, Segini RiilnyaIroni di Balik Status Lumbung Padi, Petani Indramayu Terjerat ‘Guremisasi’ Lahan 0,4 Hektar
Bukan Sekadar Seremoni: Menguji Komitmen Irigasi dan Modal
Bupati Indramayu, Lucky Hakim, menegaskan bahwa predikat daerah penghasil padi nomor satu di Indonesia sama sekali tidak berarti jika kesejahteraan petaninya masih jalan di tempat.
Pemerintah daerah berkomitmen hadir nyata di setiap fase produksi pertanian, mulai dari urusan paling krusial seperti jaminan pasokan air irigasi hingga keleluasaan akses permodalan bagi petani kecil.
”Produk pertanian kita punya kualitas luar biasa. Lewat momentum HKP ini, kita tidak hanya bicara promosi, tapi bagaimana negara hadir memastikan air irigasi lancar dan akses modal tidak mencekik petani,” tegas Lucky Hakim di hadapan ratusan perwakilan kelompok tani.
Komitmen ini menjadi angin segar. Pasalnya, petani Indramayu kerap dihadapkan pada masalah klasik: ancaman kekeringan ekstrem di musim kemarau dan keterbatasan distribusi air dari bendungan utama ke area persawahan ujung (hilir).
Pangan Murah dan Ledakan Potensi Lokal
Sebelum membuka ruang sarasehan, Lucky Hakim memantau langsung stan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang diinisiasi oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Indramayu. Langkah taktis ini diambil untuk menjaga stabilitas pasokan sekaligus menekan inflasi harga di tingkat konsumen lokal.
Stan pameran menyajikan pemandangan yang memikat. Komoditas pangan segar seperti beras premium lokal dan sayuran hijau bersanding dengan pasokan daging sapi segar serta ayam potong.
Tidak ketinggalan, hilirisasi produk juga unjuk gigi lewat berbagai olahan pangan kreatif berbasis mangga khas Indramayu yang digerakkan oleh para pelaku UMKM lokal.
