CIREBONINSIDER.COM – Kementerian Sosial (Kemensos) tengah menyiapkan lompatan besar untuk memutus rantai kemiskinan secara permanen.
Melalui skema “graduasi strategis”, Kemensos membuka peluang kerja sama dengan lembaga asal Jepang, Regiono Group, untuk mencetak tenaga caregiver (perawat) profesional yang berasal dari keluarga penerima bantuan sosial (bansos).
​Target utamanya adalah para lulusan Sekolah Rakyat. Program ini dirancang agar masyarakat prasejahtera tidak lagi bergantung pada bantuan pemerintah, melainkan mampu menembus pasar kerja internasional dengan keahlian spesifik.
Baca Juga:Investasi Rp574 Triliun Korea-Jepang: Momentum Emas atau Sekadar Angka di Atas Kertas bagi Daerah?Identitas Anak Diaspora di Jepang Terancam: KBRI Tokyo Sentil Program Pengabdian Kampus RI
​Solusi Permanen Keluar dari Garis Kemiskinan
Wakil Menteri Sosial (Wamensos), Agus Jabo Priyono, menegaskan bahwa kolaborasi ini adalah langkah konkret untuk memperkuat kemandirian ekonomi warga.
Menurutnya, menyiapkan tenaga kerja terampil adalah kunci agar graduasi bansos tidak hanya menjadi angka statistik, tapi perubahan taraf hidup yang nyata.
​”Dari keluarga miskin kita latih menjadi caregiver. Kami berharap ini menjadi kerja sama permanen dan strategis. Ini misi besar untuk membawa mereka menuju kemandirian,” ujar Agus Jabo usai menerima CEO Regiono Group, Nakashima Yasuharu, di Kantor Kemensos, Jakarta Pusat, Senin (13/4/2026).
​Inkubasi di Sekolah Rakyat
Sekolah Rakyat akan menjadi basis utama penyiapan talenta. Kurikulum yang diterapkan kini mulai diorientasikan untuk melatih bakat siswa sesuai kebutuhan industri.
Bagi siswa SMA yang memilih untuk langsung bekerja, jalur pengiriman ke Jepang ini menjadi prioritas utama.
​Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos, Supomo, menjelaskan bahwa persiapan dilakukan sejak dini di tingkat kabupaten/kota.
“Anak-anak yang tidak ingin kuliah dan ingin langsung bekerja kita siapkan mental serta skill-nya di kurikulum terakhir Sekolah Rakyat. Begitu lulus, mereka sudah punya tiket untuk berangkat ke Jepang,” jelas Supomo.
Baca Juga:Investasi Rp574 Triliun Korea-Jepang: Momentum Emas atau Sekadar Angka di Atas Kertas bagi Daerah?Negara Hadir, Mensos Serahkan Santunan 23 Prajurit Marinir Gugur di Cisarua
​Jepang Butuh 400 Tenaga Kerja Terampil
Peluang ini terbuka lebar seiring tingginya kebutuhan tenaga perawatan di Negeri Sakura. CEO Regiono Group, Nakashima Yasuharu, mengungkapkan pihaknya membutuhkan sedikitnya 400 caregiver untuk ditempatkan di panti sosial wilayah Fukuyama dan Hiroshima.
​Para tenaga kerja ini nantinya akan bekerja merawat anak-anak dan orang tua dengan standar kerja profesional: 8 jam sehari selama 5 hari seminggu.
