CIREBONINSIDER.COM — Gerakan bersih-bersih sampah di sekolah kerap terjebak pada ritual seremonial. Lomba usai, sampah plastik kembali menumpuk.
Beban krisis lingkungan di Jawa Barat menuntut langkah yang jauh lebih ekstrem dan terstruktur.
Menjawab tantangan tersebut, Dinas Pendidikan Jawa Barat (Disdik Jabar) resmi menggandeng lembaga internasional River Cleanup Belgia dan River Cleanup Indonesia.
Baca Juga:Ancam Subsidi Sekolah! KDM Wajibkan Siswa SMA/SMK Nyapu Sampah demi Nilai IPAKuningan Darurat 500 Ton Sampah, 6 Kampus Bersatu Sulap Limbah Plastik Jadi BBM Genset!
Kolaborasi lintas negara ini membawa misi tunggal: mentransformasi sekolah dari sekadar tempat belajar menjadi benteng pertahanan ekologi.
Tiga Pilar Utama: Bukan Sekadar Sapu dan Sampah
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, menegaskan bahwa edukasi lingkungan tidak bisa lagi diselesaikan dengan aksi sesekali. Kesadaran ekologi harus menancap kuat menjadi karakter peserta didik.
”Gerakan lingkungan tidak hanya tentang kegiatan bersih-bersih. Ini tentang bagaimana membangun kepedulian peserta didik melalui pembelajaran dan praktik nyata di lapangan,” tegas Purwanto di Kantor Disdik Jabar, Kota Bandung.
Gerakan ini berlandaskan tiga nilai utama. Pertama, nilai ekologi untuk membangun pemahaman mendalam tentang ekosistem. Kedua, nilai sosial untuk membentuk kebiasaan hidup bersih berbasis komunitas. Ketiga, nilai spiritual sebagai bentuk kesadaran menjaga bumi.
Pendekatan ini juga menyatu dengan program lokal Gandrung Mulasara, menciptakan ruang bersama bagi komunitas lingkungan di seluruh Jawa Barat.
Plastic Clever School: Purwakarta Jadi Laboratorium Pertama
Pilar utama kolaborasi ini tertuang dalam program Plastic Clever School untuk jenjang SD dan SMP. Program ini tidak hanya mengajarkan teori, tetapi mendesain ulang budaya sekolah agar mampu mengelola lingkungan secara mandiri.
Ekosistem perubahan ini dijalankan lewat pendampingan intensif selama satu periode penuh. Setiap sekolah wajib menunjuk seorang School Leader atau guru koordinator sebagai motor penggerak aksi di lapangan.
Baca Juga:Gempur Puluhan Ton Sampah Pasar Minggu Palimanan, DLH Cirebon Bidik Solusi Pakan Maggot BSFMenakar Potensi 'Bom Waktu' Sampah Makan Bergizi Gratis di Cirebon: DLH dan UMC Ambil Langkah Taktis
Tak sekadar imbauan, River Cleanup menyediakan perangkat pembelajaran lengkap. Guru dibekali Teacher Toolkit khusus, sementara siswa memegang Workbook interaktif untuk panduan aksi harian.
Sebagai langkah awal, Kabupaten Purwakarta dipilih menjadi lokasi percontohan (prototype). Sekolah-sekolah di Purwakarta akan menjadi laboratorium hidup selama satu tahun sebelum model ini direplikasi ke ribuan sekolah lain di Jawa Barat.
