​Rapor Merah Talenta Digital, 69 Persen Bos Ogah Rekrut Pekerja Tanpa AI, Anak-Anak Kian Terancam

Kemnaker-siapkan-talenta-digital-Indonesia
Visualisasi kolaborasi Kemnaker dan universitas dalam penyiapan talenta digital Indonesia berkeahlian AI. Foto menunjukkan dialog interaktif antara pejabat pemerintah dan pemuda. Foto: Istimewa/ Doc Kemnaker

​Menko PMK Pratikno menegaskan bahwa edukasi digital tidak boleh lagi dibebankan secara sepihak kepada guru dan orang tua. Korporasi pengembang teknologi (Big Tech) wajib ikut bertanggung jawab secara moral.

​”Targetnya bukan sekadar membuat buku panduan. Yang penting, sejauh mana panduan itu benar-benar digunakan oleh guru, orang tua, dan anak-anak. Jangan cuma dibuat, tapi harus dipakai,” ujar Pratikno pada peringatan Safer Internet Day.

​Menaker Yassierli pun menyepakati hal tersebut. Ia mengingatkan bahwa selanggih apa pun AI, ada keunggulan hakiki manusia yang tidak boleh tergerus.

Baca Juga:​Pemkab Kuningan Kunci Sistem Digital, Gandeng BSSN Benteng Sektor Siber dan Data WargaLedakan 2.347 IKM Cirebon, DKUKMPP Turun Ke Lapangan, Amankan Digitalisasi SIINas

​”No algorithm can replace empathy; no data set can replicate wisdom. AI harus dimanfaatkan untuk memperkuat kualitas manusia,” tambah Yassierli.

​Pola Asuh Baru: Menjadi Co-User, Bukan Sekadar Melarang

​Merespons ancaman tersebut, Kemenko PMK bersama Google dan YouTube meluncurkan inisiatif AKSI Digital (Anak & Keluarga Sigap Digital). Lewat armadanya, Google.org bahkan menyalurkan hibah dana sebesar USD 5 juta (sekitar Rp80 miliar) untuk program kesejahteraan digital pemuda di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

​Langkah ini diperkuat melalui program Cek Kesehatan Digital (CKD) yang bertumpu pada tiga pilar utama:

– ​Keamanan Digital: Membentengi data pribadi dan ruang selancar anak.- ​Kecakapan Digital: Mengedukasi pemanfaatan internet secara produktif.- ​Etika Digital: Membentuk sopan santun dan tata krama di dunia maya.

​Dari sudut pandang medis, Kepala Divisi Psikiatri Anak dan Remaja FKUI–RSCM, Tjhin Wiguna, menjelaskan bahwa biologis kontrol diri anak belum matang. Pembatasan sepihak atau doktrin melarang kerap kali tidak efektif.

​”Pola asuh digital yang tepat adalah orang tua menjadi co-user, bukan solo user. Bukan melarang, melainkan mendampingi,” terang Tjhin Wiguna.

​Sebagai langkah konkret di tingkat keluarga, pemerintah mendorong pengurangan screen time (waktu di depan layar) dan meningkatkan green time (aktivitas fisik dan interaksi langsung) melalui Gerakan Satu Jam Berkualitas Bersama Keluarga.

Baca Juga:​Lawan Cyberbullying hingga Degradasi Moral, Cirebon Pacu Kurikulum Budaya Plus Skill DigitalResmi Dilantik, Fatayat NU Kabupaten Cirebon Teguhkan Kepemimpinan Perempuan dan Siap Hadapi Tantangan Digital

​Menyeimbangkan Ekonomi dan Karakter Menuju 2045

​Indonesia sedang mencontoh keberhasilan Kota Hyderabad di India, yang sukses mencatatkan pertumbuhan rekrutmen kerja hingga 11 persen berkat ekosistem digital yang terintegrasi antara pemerintah, akademisi, dan industri.

0 Komentar