CIREBONINSIDER.COM — Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) resmi menjadi pedang bermata dua di Indonesia. Di satu sisi, dunia kerja menolak calon pekerja yang buta AI. Di sisi lain, penetrasi teknologi tanpa kendali mulai menggerogoti kesehatan mental serta karakter anak usia dini.
Pemerintah bergerak cepat. Melalui kolaborasi lintas kementerian—Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) dan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK)—negara menggandeng raksasa teknologi global seperti Microsoft, Google, dan YouTube untuk mengamankan dua benteng sekaligus: pasar kerja dan keselamatan keluarga.
Pasar Kerja Menutup Pintu untuk Kandidat ‘Nirkemampuan AI’
Dunia industri tak lagi memberi toleransi. Data LinkedIn mencatat permintaan tenaga kerja berkeahlian AI di Asia Tenggara melompat hingga 2,4 kali lipat.
Baca Juga:Pemkab Kuningan Kunci Sistem Digital, Gandeng BSSN Benteng Sektor Siber dan Data WargaLedakan 2.347 IKM Cirebon, DKUKMPP Turun Ke Lapangan, Amankan Digitalisasi SIINas
Kondisi di Indonesia bahkan jauh lebih ekstrem. Sebanyak 69 persen pimpinan perusahaan secara terbuka mengaku enggan menerima pelamar yang tidak memiliki keterampilan AI. Penguasaan teknologi ini bukan lagi nilai tambah, melainkan syarat mutlak untuk bertahan.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan bahwa disrupsi ini tidak boleh ditanggapi dengan kepanikan PHK massal. Mengutip World Economic Forum Future of Jobs Report, meski 92 juta pekerjaan bakal terdisrupsi, ada 170 juta jenis pekerjaan baru berbasis teknologi yang akan lahir hingga 2030.
”Otomasi berbasis AI hanyalah salah satu faktor, bukan penyebab utama PHK. Yang kita butuhkan adalah kolaborasi, keberanian beradaptasi, dan kesiapan SDM,” tegas Yassierli saat membuka AI Career Boost Day.
Untuk mengejar ketertinggalan ini, Kemnaker menggandeng GreatNusa dari Universitas Bina Nusantara (BINUS) dan Microsoft Indonesia. Melalui jaringan Balai Latihan Kerja (BLK) di berbagai daerah, pelatihan digital kini dibuka mulai dari level dasar hingga smart operation, dilengkapi akses job fair daring untuk mempercepat penyaluran kerja.
Alarm Bahaya: 41 Persen Balita Keluyuran di Ruang Digital
Namun, di tengah perburuan skill AI untuk pasar kerja, muncul celah fatal di akar rumput. Menguasai teknologi tanpa benteng karakter dan kesehatan mental hanya akan melahirkan generasi yang pincang.
Data Kemenko PMK memperlihatkan kenyataan pahit: sebanyak 41 persen anak usia dini di Indonesia sudah terbiasa mengakses internet tanpa pendampingan orang tua. Mereka terpapar risiko ruang digital sebelum memiliki kemampuan menyaring informasi.
