CIREBONINSIDER.COM — Cara bertani di Kabupaten Cirebon resmi berganti gigi. Lewat skema Program Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PMAAS), petani di Desa Beberan, Kecamatan Palimanan, berambisi mendongkrak hasil panen hingga hampir dua kali lipat.
Bukan sekadar retorika. Targetnya sangat agresif: memutar angka produktivitas dari rata-rata 7 ton menjadi 10 hingga 13 ton gabah kering per hektare.
Langkah awal dimulai dari lahan percontohan seluas satu hektare di Beberan. Jika skema ini terbukti presisi, pola bertani cepat ini siap menjadi blueprint efisiensi pangan nasional di tengah bayang-bayang cuaca ekstrem.
Baca Juga:Birokrasi Pupuk Resmi Dipotong Kompas, tapi Mengapa Lahan Pertanian Justru Menghadapi Alarm Bahaya?Adopsi Teknologi Arkansas, Indramayu Targetkan Panen 10 Ton Per Hektar Lewat Pertanian Modern PM-AAS
Tiga Senjata Utama PMAAS: Kenapa Produksi Bisa Meledak?
PMAAS tidak sekadar mendatangkan traktor ke sawah, melainkan membongkar pola pikir dan tradisi tanam secara mendasar. Ada tiga strategi utama yang dipraktikkan langsung di lapangan:
Pertama, penerapan Sistem Tanam Benih Langsung (Tabela). Metode ini memangkas total proses persemaian konvensional. Waktu tanam jadi jauh lebih singkat, efisiensi benih berada di kisaran 70 hingga 80 kilogram per hektare, dan biaya tenaga kerja bisa ditekan secara signifikan.
Kedua, pengoperasian Pola Jajar Legowo 4:1 dan 6:1. Penataan barisan tanaman ini secara matematis memberi ruang sirkulasi udara yang luas dan memaksimalkan penyerapan sinar matahari. Imbasnya, fotosintesis bekerja optimal dan pengisian bulir padi menjadi lebih padat.
Ketiga, Mekanisasi Total dan Pengairan Terintegrasi. Pengolahan tanah tak lagi lambat karena mengandalkan traktor modern. Seluruh proses didukung penuh oleh penyediaan benih unggul, pupuk bersubsidi, hingga fasilitas pompa air untuk menjaga stabilitas irigasi.
”Semua sudah difasilitasi pemerintah. Mulai dari benih, bantuan pupuk, mekanisasi, hingga pompa air untuk menunjang kebutuhan irigasi,” ujar Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Palimanan, Eeb.
Solusi Pukul Balik Musim Kemarau
Bagi petani lokal, hadirnya teknologi ini menjadi jawaban konkret atas tingginya biaya produksi, terutama ketika musim kemarau tiba.
Teguh Basuki, petani asal Desa Beberan, mengakui bahwa beban terbesar petani selama ini adalah pembengkakan modal akibat pengairan mandiri.
Baca Juga:Cirebon-Yangjiang Perkuat Sister City: Fokus Hilirisasi Perikanan dan Pertanian di Kawasan RebanaDinas Pertanian Cirebon Luncurkan Asuransi Mikro, Lindungi Petani dari Risiko Jiwa dan Permodalan
”Selama musim kemarau, petani harus mengeluarkan biaya ekstra untuk pengairan dan pompanisasi. Metode ini diharapkan membuat pengolahan lahan lebih efisien, hasil panen melonjak, dan target swasembada pangan tercapai,” kata Teguh.
