Pimpinan Baru BGN Bongkar Siasat Amankan Anggaran Makan Gratis

Kepala-BGN-Nanik-S-Deyang
Presiden Prabowo Subianto saat melantik Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S. Deyang di Istana Negara Jakarta. Foto: Humas Setneg RI

​Untuk wilayah yang belum terjamah investasi atau infrastruktur memadai, BGN akan mengoptimalkan skema kolaborasi pihak ketiga:

– ​Corporate Social Responsibility (CSR): Menggandeng BUMN dan perusahaan swasta besar yang beroperasi di wilayah terpencil.

-​ Dana Hibah Luar Negeri: Membuka peluang pembiayaan dari lembaga donor internasional yang berfokus pada penanganan stunting dan pemenuhan gizi anak.

Baca Juga:Mega Skandal MBG: Eks Kepala BGN Ditahan, Modus Gurita Yayasan Keruk Dana Miliaran Per HariAnggaran Makan Bergizi Gratis Rawan Bocor? BGN Buka-bukaan di Depan Jaringan Muda Indonesia

​Restrukturisasi Kelembagaan di Istana Negara

​Pengangkatan Nanik Sudaryati Deyang sebagai Kepala BGN didasarkan pada Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres RI) Nomor 18/M Tahun 2026. Keppres ini sekaligus menandai pemberhentian dan pengangkatan jajaran pimpinan baru BGN, termasuk Agustina Arumsari (yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala BPKP) dan Trenggono.

​Masuknya figur dengan latar belakang pengawasan ketat seperti Agustina Arumsari mengindikasikan bahwa Presiden Prabowo Subianto ingin memastikan setiap rupiah yang keluar untuk program MBG bersih dari penyelewengan.

​Selain menyumpah jajaran pimpinan BGN, dalam prosesi yang dihadiri Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka serta para menteri Kabinet Merah Putih tersebut, Presiden Prabowo juga melantik tokoh buruh Said Iqbal sebagai Penasihat Khusus Presiden (PKP) Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh melalui Keppres RI Nomor 58/P Tahun 2026.

Mengapa Kebijakan Ini Krusial?

​Langkah BGN menginjak rem darurat melalui moratorium dapur dan refocusing data di tahun 2026 ini adalah jawaban realistis atas beban fiskal negara yang berat. Menjalankan program makan gratis berskala masif di tengah ketidakpastian ekonomi global menuntut akurasi data yang tanpa cela.

​Bukan lagi soal seberapa banyak kotak makanan yang berhasil dibagikan, melainkan seberapa tinggi dampak kecukupan gizi yang dihasilkan secara merata dari Sabang sampai Merauke.

Publik kini menunggu, sejauh mana efisiensi ekstrem ini mampu mempertahankan kualitas nutrisi tanpa mengorbankan anak-anak di garis kemiskinan terdalam.(*)

0 Komentar