CIREBONINSIDER.COM — Bayang-bayang kelam ancaman El Niño tak lagi menghantui para petani di kawasan utara Majalengka. Musim kemarau yang biasanya menjadi vonis krisis kini berubah cerita. Peta kekeringan di daerah ini berhasil dibalikkan secara drastis berkat intervensi teknis yang tepat sasaran.
Kuncinya ada pada pembukaan saluran sodetan dari Bendung Rentang. Langkah ini berfungsi bak ‘transfusi darah’ bagi sektor pertanian lokal, mengalirkan air kehidupan ke kawasan rawan kekeringan.
Terobosan ini langsung mengamankan 2.000 hektare lahan sawah di Kecamatan Jatitujuh. Luas area panen memuncak tajam hingga empat kali lipat dibanding musim kemarau sebelumnya yang hanya bertahan di angka 500 hektare. Pasokan air ini menghidupi kembali produktivitas petani di lima desa vital, meliputi Jatitujuh, Jatitengah, Biyawak, Jatiraga, Pilangsari, hingga Puteridalam.
Baca Juga:Ancaman Kekeringan 2026: Strategi Kementan Jaga Lumbung Pangan Jawa Barat Tetap BasahLumbung Padi Nasional: Keajaiban Panen Raya di Indramayu yang Sempat Kekeringan, Tuai Pujian dari Wamentan
Napas Baru di Lahan Kritis
Sodetan yang terealisasi berkat kolaborasi Pemkab Majalengka dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung ini terbukti efektif sejak difungsikan satu bulan terakhir.
Bupati Majalengka, Eman Suherman, menegaskan bahwa peninjauan langsung di lapangan menunjukkan kontras yang begitu nyata.
”Memang ada wilayah yang masih berjuang melawan kemarau. Namun hari ini, petani di Jatitujuh bisa bernapas lega karena kebutuhan air tanaman mereka terpenuhi penuh,” ujar Eman di sela pemantauan jaringan irigasi.
Apresiasi tinggi dilayangkan Pemkab Majalengka kepada BBWS Cimanuk Cisanggarung. Tanpa terobosan fisik ini, potensi kehilangan tonase gabah akibat puso (gagal panen) tak akan terhindarkan.
Sisi Lain Peta Kekeringan: PR Besar di Kertajati
Meski Jatitujuh berhasil keluar dari cengkeraman kekeringan, Pemkab Majalengka menolak tutup mata. Kondisi lapangan belum sepenuhnya berimbang.
Kecamatan Kertajati masih berada dalam zona rawan. Dominasi sawah tadah hujan tanpa dukungan jaringan irigasi permanen membuat wilayah ini rentan terpukul saat kemarau panjang tiba.
Merespons kenyataan objektif tersebut, pemerintah daerah menyiapkan serangkaian langkah mitigasi darurat dan jangka panjang:
Baca Juga:Atasi Banjir Tahunan Kalijaga, Pemkot Cirebon dan BBWS Permanenkan Normalisasi Sungai CikenisBBWS Cimancis Sulap Biaya Pompa Air Petani Jadi Nol Rupiah dengan Teknologi Surya
– Pembangunan Embung Penampung: Mengunci cadangan air hujan untuk mengantisipasi fase kritis.
– Evaluasi Pola Tanam: Mendorong pergeseran varietas ke tanaman hemat air (palawija) di zona paling rawan.
