CIREBONINSIDER.COM— Di tengah antusiasme publik menyambut Program Makan Bergizi Gratis (MBG), para komplotan penipu justru melihatnya sebagai ladang duit haram.
Berkedok sebagai “orang dalam”, jaringan makelar ini mulai bergerilya di berbagai daerah untuk memeras masyarakat yang tergiur mengelola titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Tak main-main, akumulasi kerugian dari para korban yang tertipu mentah-mentah kini ditaksir telah menembus angka miliaran rupiah.
Baca Juga:Sinyal Kuat BGN: MBG Bisa Gerakkan Ekonomi Ciayumajakuning, Syaratnya Kampus Harus Turun TanganFilter Ketat di 43 Dapur Gizi Cirebon, Jamin Program MBG Bebas dari "Bom Waktu" Kimia
Merespons situasi darurat ini, Badan Gizi Nasional (BGN) langsung mengambil langkah ofensif. Mereka resmi menggandeng Satgas MBG Polri untuk memberangus para mafia proyek yang mencoreng program super-prioritas nasional tersebut.
Modus Operandi: Jual Nama Pejabat BGN dan Minta Uang Pelicin
Wakil Kepala BGN sekaligus Ketua Tim Verifikasi, Sony Sonjaya, membongkar siasat licik yang digunakan para pelaku. Umumnya, mereka menjual pengaruh (influence peddling) dengan mengaku memiliki kedekatan khusus dengan pucuk pimpinan BGN guna memuluskan proyek SPPG.
“Kami menerima banyak laporan dari beberapa daerah. Para pelapor ini merupakan korban dari pihak yang mengaku orang dekat atau bahkan mengaku sebagai pejabat BGN. Mereka menawarkan jasa pendaftaran titik SPPG, tentu saja ujung-ujungnya dengan permintaan sejumlah uang,” ungkap Sony dalam konferensi pers di Jakarta.
Sony menegaskan, BGN tidak pernah menerapkan sistem “orang dalam” apalagi memungut biaya sepeser pun dalam penentuan titik pelayanan gizi masyarakat tersebut.
Peta Kerugian Daerah: Jawa Barat Paling Ambyar
Berdasarkan laporan resmi yang masuk ke meja aparat penegak hukum, sebaran kasus penipuan ini sudah menggurita di beberapa wilayah strategis dengan nilai kerugian yang bervariasi:
– Polda Jawa Barat: Menjadi wilayah dengan dampak paling parah. Sejauh ini, sudah ada 21 korban yang melapor dengan total kerugian kolektif mencapai Rp1,9 miliar. Jika dirata-rata, setiap korban diperas hingga Rp100 juta.
– Provinsi Banten: Korban mulai bermunculan. Tercatat dua orang telah melapor ke polisi dengan total kerugian mencapai Rp400 juta.
Baca Juga:Marak Keracunan, MBG Bisa Jadi Bom Waktu? Komisi IX DPR Sentil Manajemen ‘Setengah Matang’!Uji Kelayakan MBG Cirebon, 24 Satuan Pelayanan Gizi Belum Kantongi Sertifikat Higiene
– Lombok Timur & Barelang: Kasus serupa kini sudah masuk dalam radar penyelidikan intensif kepolisian setempat.
Angka-angka ini diprediksi hanyalah puncak dari gunung es. Sony membeberkan bahwa arus laporan dari korban baru masih terus mengalir.
