Bukan Katering Mewah, Kemendes Dorong Dapur Komunal untuk Makan Gratis Anak Papua

Ilustrasi-program-MBG-Papua
Ilustrasi aktivitas memasak bahan pangan lokal oleh komunitas ibu-ibu untuk program Makan Bergizi Gratis di pedalaman Papua. Foto: Ilustrasi/AI 

CIREBONINSIDER.COM — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menghadapi benteng geografis yang amat tebal di pedalaman Papua. Model katering massal ala perkotaan dipastikan tumbang di sana.

​Menjawab tantangan ekstrem ini, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menyodorkan jurus adaptif: Dapur Komunal Desa.

​Langkah tersebut bukan sekadar urusan membagi piring nasi. Ini adalah resep penyelamat gizi berbasis komunal di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Baca Juga:Purbaya Dipecat via Telepon: Kalah Akses, Drama 4 Hari, dan Beban Anggaran MBGUji Organoleptik dan 8 Kebiasaan Baik, Peran Kunci Guru Cegah Keracunan MBG di Sekolah

​Realitas Lapangan: Sekolah Kecil dan Klaster Terisolir

​Satu aturan tidak bisa dipaksakan untuk semua wilayah. Di pedalaman Papua, pemukiman warga umumnya terpecah dalam klaster kecil berisi 10 hingga 20 rumah saja.

​Dampaknya langsung terasa di sekolah. Jumlah murid di satu ruang kelas kerap tak lebih dari 20 anak.

​Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (PPDT) Kemendes PDT, Samsul Widodo, menegaskan bahwa kondisi ini menuntut pendekatan yang sama sekali berbeda.

​Mengirim makanan jadi dari pusat kota kabupaten jelas bukan solusi logis. Makanan berisiko basi di jalan akibat keterbatasan dan tingginya biaya transportasi. Belum lagi tantangan jalan setapak dan cuaca yang tak menentu.

​Dapur Komunal: Sentuhan Ibu dan Pangan Lokal

​Dapur komunal hadir sebagai solusi tepat sasaran. Mengandalkan sinergi dengan Tim Penggerak PKK di bawah Pembinaan Pemerintahan Desa (Bina Pemdes), dapur ini digerakkan langsung oleh komunitas perempuan.

​Melalui wadah ini, ibu-ibu desa dilatih mengolah bahan pangan lokal menjadi santapan bergizi seimbang sesuai standar MBG.

​Alurnya dibuat sangat ringkas dan efisien. Bahan pangan segar dipetik dari kebun warga atau ditangkap dari sungai setempat. Dapur komunal mengolahnya menjadi hidangan hangat, lalu disajikan langsung ke meja sekolah siswa tanpa jeda distribusi yang berbelit.

Baca Juga:​Sapu Bersih Dapur MBG Bodong, BGN Gembok 1.999 Dapur Pembangkang Izin SanitasiMas Dar Buka Suara: 90% Keracunan MBG Akibat SOP, Data Siswa Bakal Ditarik via NIK

​Sagu, keladi, umbi-umbian, jagung, hingga ikan lokal tidak lagi dipandang sebelah mata. Semua disulap menjadi sajian kaya nutrisi yang akrab dengan lidah anak-anak Papua.

​Lebih dari Sekadar Nasi Gratis: Menghidupkan Ekonomi Desa

​Gagasan ini sejatinya menghidupkan kembali dan menyempurnakan konsep Dapur Desa yang pernah digulirkan Kemendes sebelumnya. Dampak positifnya terbukti berlipat ganda bagi warga setempat.

0 Komentar