Bukan Fanatik atau Apatis, KPU Cirebon Dorong Gen Z dan Alfa Jadi Pemilih 'Vulkan' 

KPU-Jawa-Barat-Abdullah-Sapi\'i
Abdullah Sapi\'i, Anggota KPU Jawa Barat, memberikan sambutan di podium berlogo KPU dengan latar belakang layar Sekolah Demokrasi Caruban Nagari Cirebon. Foto: Doc Pemkab Cirebon 

CIREBONINSIDER.COM— Lanskap politik Indonesia sedang mengalami pergeseran demografi yang masif. Di Jawa Barat, panggung demokrasi tak lagi didominasi generasi tua. Pembaruan Data Pemilih Berkelanjutan mencatat sekitar 59 persen pemilik suara berasal dari Generasi Y (Milenial) dan Generasi Z.

​Merespons potensi raksasa ini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) bersama Pemerintah Kabupaten Cirebon mengambil langkah strategis. Mereka menggelar Sekolah Demokrasi Caruban Nagari di Ruang Nyimas Gandasari, Sekretariat Daerah Kabupaten Cirebon.

​Puncak kegiatan ini sengaja digelar bertepatan dengan momen penting dunia: Hari Demokrasi Internasional.​Namun, program ini bukan sekadar sosialisasi coblos gambar biasa. Target utamanya jauh lebih mendalam: merombak cara pandang generasi muda terhadap politik praktis.

Baca Juga:KPU dan Bawaslu Cirebon Gelar Pemilihan OSIS Serentak SMP-SMA, Inovasi Pendidikan Politik 2026Evaluasi Pengawasan Pemilihan 2024 di Kabupaten Cirebon, Bawaslu Sebut Aman, Ini Indikatornya

Dobrak Karakter Pemilih: Dari ‘Hobbit’ Hingga ‘Vulkan’

​Anggota KPU Jawa Barat, Abdullah Sapi’i, menyoroti fenomena perilaku pemilih muda yang kerap terjebak pada sudut-sudut ekstrem. Mengutip teori Agens Demokrasi, Sapi’i membedah tiga tipologi pemilih yang ada di masyarakat.

​Pertama, Pemilih Hobbit. Ini adalah tipe pemilih yang apatis, tidak peduli isu politik, dan kerap menentukan pilihan hanya berdasarkan faktor non-politik.

​Kedua, Pemilih Hooligan. Kelompok ini cenderung fanatik buta, bertindak emosional, dan membela figur politik tanpa memfungsikan krisis logika.

​Ketiga, Pemilih Vulkan. Inilah profil ideal yang menjadi sasaran utama. Pemilih Vulkan mengedepankan pertimbangan rasional, berbasis data, sigap menguji rekam jejak, serta kritis menilai program kerja calon sebelum membuat keputusan.

​”Tujuan kita adalah mengajak rekan-rekan semua masuk ke kategori Vulkan. Pemilih yang rasional,” tegas Sapi’i.

​Di era banjir informasi, pemilih rasional dipandang sebagai benteng utama pertahanan sosial. Generasi muda yang kritis tidak akan gampang terombang-ambing oleh hoaks, disinformasi, maupun manipulasi politik di media sosial.

​Naik Kelas: Dari Sekadar Penonton Menjadi Penyelenggara

​Edukasi dalam Sekolah Demokrasi tak berhenti pada perubahan pola pikir. Generasi muda didorong melangkah lebih jauh: bertransisi dari sekadar pemilik suara menjadi subjek aktif kepemiluan.

Baca Juga:​Sinyal Bahaya Fiskal Pilkada Cirebon, Wali Kota Warning Dana Cadangan, Bawaslu Geber Pengawasan Non TahapanInvestasi Demokrasi: Curi Start sejak 2026, Bawaslu Kota Cirebon Gembleng Gen Z Jadi 'Benteng' Pemilu 2029

​KPU membuka pintu lebar-lebar bagi anak muda untuk masuk ke dalam ekosistem penyelenggara. Peluang terbuka mulai dari Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Panitia Pemungutan Suara (PPS), Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), hingga petugas Pantarlih.

0 Komentar