​Alarm Bahaya Kelas Menengah dan Ujian Berat Suahasil Nazara Usai Era Purbaya

Menkeu-Suahasil-Nazara
Momen serah terima jabatan Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara di Kantor Kemenkeu Jakarta. Foto: Tangkapan layar Instagram 

CIREBONINSIDER.COM— Estafet kepemimpinan di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) resmi berganti. Purbaya Yudhi Sadewa menyerahkan tongkat estafet kepada Suahasil Nazara.

​Di balik seremoni hangat penuh apresiasi, Suahasil langsung dihadapkan pada realita keras: terancamnya daya beli masyarakat hingga bayang-bayang gejolak pasar global.

​Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan, fondasi kolaborasi bertajuk “Kementerian Keuangan Satu” yang dibangun era Purbaya tidak akan digusur. Pola kerja lintas unit ini justru akan terus dipacu.

Baca Juga:Isyarat Reshuffle Menkeu, Hitungan 50:50 Purbaya Yudhi Sadewa dan Babak Baru Suahasil NazaraDrama Panggilan Istana Potong Rapat DPD, Suahasil Nazara Resmi Gantikan Purbaya Jadi Menkeu

​“Pak Purbaya meneruskan legasi Kemenkeu dan memperkuatnya. Kolaborasi lintas unit kini semakin erat. Memimpin Kemenkeu adalah tanggung jawab besar yang diselesaikan dengan baik oleh beliau,” ujar Suahasil di Kantor Kemenkeu, Jakarta.

​Namun di luar gedung Kemenkeu, lanskap ekonomi menuntut lebih dari sekadar keberlanjutan proses internal.

​Kredit Meroket, Tapi 4,7 Juta Kelas Menengah Merosot

​Lembaga think-tank InFast Bestari menilai setiap fase ekonomi butuh arsitek makro yang berbeda. Direktur Eksekutif InFast Bestari, Gede Sandra, mencatat keberhasilan Purbaya menyuntikkan dana Sisa Anggaran Lebih (SAL) untuk mencairkan kekakuan likuiditas.

​Hasilnya di sektor perbankan tergolong impresif. Pertumbuhan kredit yang tadinya terpuruk di angka 7 persen—salah satu yang terendah dalam sejarah—berhasil melompat hingga 13,8 persen di akhir masa jabatannya.

​Sayangnya, pacuan likuiditas ini belum cukup kuat menahan erosi ekonomi masyarakat bawah dan menengah.

​Data Badan Pusat Statistik (BPS) merekam alarm bahaya sepanjang 2025 hingga 2026. Populasi kelas menengah Indonesia menyusut drastis dari 46,7 juta jiwa menjadi 42 juta jiwa.

​Artinya, ada 4,7 juta jiwa kelas menengah yang terlempar turun kelas hanya dalam kurun waktu satu tahun. Angka penurunan ini sangat mengkhawatirkan karena setara dengan dampak krisis ekonomi pasca-pandemi COVID-19 periode 2021–2022.

Baca Juga:Mengapa Keputusan Belanja Anda Menentukan Nasib Bangsa? Ini Penjelasan Wamenkeu Suahasil Nazara​Taktik Baru Menkeu Purbaya, Sebar 'Intel' Internal Kawal APBN ke Sektor Riil

​Penyebab utamanya jelas: laju pertumbuhan ekonomi nasional masih tertahan di bawah batas ideal 6 persen.

​Tiga Beban Berat Menkeu Baru

​Memasuki fase percepatan, pasar membutuhkan kepemimpinan fiskal yang lincah dan berorientasi hasil nyata. Gede Sandra menekankan tiga PR mendesak yang harus diselesaikan Suahasil:

Pertama, ​Mengantisipasi Sentimen Pasar Global: Pasar modal membayangkan risiko keputusasaan investor. Tenggat November 2026 menjadi krusial terkait potensi penurunan status investasi Indonesia oleh MSCI ke kategori frontier. Jika bursa saham terguncang, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) baru mengintai.

0 Komentar