”Jika sudah masuk kategori Vulkan, bekal ilmu itu harus diimplementasikan pada tahap berikutnya, yaitu menjadi subjek kepemiluan,” tambah Sapi’i.
Selain menjadi bagian dari struktur resmi, jejaring sosial media anak muda juga dibidik sebagai saluran edukasi eksternal. Gaya komunikasi Gen Z yang autentik dinilai lebih ampuh menyampaikan pesan-pesan politik yang sehat ke sesama komunitas mereka.
Bangun Ekosistem Demokrasi Lintas Generasi
Sementara itu, Ketua KPU Kabupaten Cirebon, Esya Karnia Puspawati, menjelaskan Sekolah Demokrasi Caruban Nagari dirancang dengan skema hybrid (daring dan luring). Pemetaan dilakukan secara merata mencakup lima zona wilayah: timur, barat, selatan, utara, dan tengah.
Baca Juga:KPU dan Bawaslu Cirebon Gelar Pemilihan OSIS Serentak SMP-SMA, Inovasi Pendidikan Politik 2026Evaluasi Pengawasan Pemilihan 2024 di Kabupaten Cirebon, Bawaslu Sebut Aman, Ini Indikatornya
Uniknya, ruang edukasi ini tidak hanya disiapkan bagi pemuda hingga usia 30 tahun. Generasi Alfa—termasuk siswa SMP berusia sekitar 14 tahun—mulai dirangkul untuk pembentukan mental demokrasi sejak dini melalui tahapan program berikutnya.
”Generasi Z dan Generasi Alfa bertemu, berakulturasi menjadi satu untuk membentuk ekosistem demokrasi di Kabupaten Cirebon. Tujuannya mencetak agen-agen demokrasi di setiap wilayah,” jelas Esya.
Dukungan penuh juga disampaikan Pemerintah Kabupaten Cirebon. Membacakan sambutan Bupati Cirebon Imron, Sekda Hendra Nirmala menegaskan bahwa keberhasilan demokrasi diukur dari kedewasaan politik masyarakatnya.
”Demokrasi tidak berhenti pada pelaksanaan pemilu. Mari kita bersama-sama membangun demokrasi yang cerdas, santun, inklusif, dan berintegritas,” tutur Hendra.(*)
