Sepanjang empat hari pameran, para kreator tanah air bertatap muka langsung dengan sedikitnya 400 buyer potensial dan perwakilan industri global.
Pendiri Artistry Rights Kollektive sekaligus peserta pameran, Stevanus Lianto, mengapresiasi dukungan pemerintah yang membuka jalan bagi seniman lokal untuk unjuk gigi di panggung internasional.
”Sangat menantang saat bertemu calon mitra karena mereka memiliki ekspektasi tinggi, dan kami harus mengelola ekspektasi tersebut,” kata Stevanus. “Partisipasi ini menjadi pengalaman berharga dan permulaan yang sangat baik untuk kolaborasi jangka panjang.”
Baca Juga:Jelang Muktamar Ke-35 NU Jombang, Cirebon Dorong Putra Daerah Jadi Rois AmResmi Dilantik, Fatayat NU Kabupaten Cirebon Teguhkan Kepemimpinan Perempuan dan Siap Hadapi Tantangan Digital
Pijakan Strategis di Pusat Subkultur Pop Dunia
URBAN BREAK & TOY CON SEOUL 2026 dikenal sebagai festival seni rupa urban dan art toys terbesar di Korea Selatan. Ajang ini menyatukan subkultur pop, grafiti, hingga designer toys dengan menghadirkan lebih dari 100 seniman terkemuka dari 15 negara.
Duta Besar RI untuk Republik Korea, Cecep Herawan, menyampaikan bahwa industri kreatif memiliki peran krusial dalam mempererat hubungan bilateral dan ekonomi kedua negara.
Senada dengan hal tersebut, Kepala ITPC Busan, Husodo Kuncoro Yakti, menegaskan pentingnya promosi yang terarah (targeted) dan berkelanjutan.
”Pameran ini menjadi jembatan bagi seniman Indonesia untuk mempelajari preferensi pasar Korea Selatan,” terang Husodo. “Langkah ini akan mendongkrak nilai ekspor jasa, mendorong komersialisasi kekayaan intelektual lokal, serta menciptakan peluang bisnis jangka panjang bagi industri kreatif nasional.”
Kinerja Mentereng Art Toys Indonesia di Panggung Seoul
Partisipasi Indonesia dalam festival yang berlangsung di Coex, Seoul ini membuktikan bahwa karya berbasis Kekayaan Intelektual (IP) memiliki daya tawar yang sangat tinggi di kancah internasional.
Dengan nilai transaksi yang melesat hingga Rp17 miliar dari edisi sebelumnya sebesar USD 500 ribu, ajang ini mencatatkan rekor baru bagi ekspansi ekonomi kreatif Indonesia.
Kehadiran 21 seniman kurasi di paviliun seluas 60 meter persegi tersebut tidak hanya berhasil menjaring lebih dari 400 calon pembeli potensial, tetapi juga mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam ekspor jasa desain dan komersialisasi karakter di pasar Asia Pasifik.(*)
