CIREBONINSIDER.COM — Garis kebijakan energi dan tata kelola korporasi negara kini berada dalam satu komando tegas. Presiden Prabowo Subianto memanggil langsung Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon A. Mantiri, ke kediamannya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Minggu sore.
Pertemuan krusial ini bukan sekadar pelaporan rutin. Kepala Negara membedah dua agenda raksasa sekaligus, yakni loncatan kemandirian energi nasional dan perombakan radikal terhadap struktur birokrasi BUMN yang dinilai terlalu gemuk.
Di hadapan Presiden, Simon memaparkan progres mutakhir dari megaproyek Mandatori B50 atau campuran 50 persen biodiesel berbasis kelapa sawit. Proyek strategis yang telah diluncurkan sejak Juli lalu ini kini dipacu percepatannya. Pertamina juga melaporkan kesiapan infrastruktur penyokong untuk menyambut penerapan mandatori bioetanol di Tanah Air.
Baca Juga:Efek Domino B50 dan Minyak Dunia $73: Skenario Jitu Penyelamat APBN 2027Presiden Prabowo Umumkan Jadwal Peluncuran Solar B50 Berbasis Sawit di PENAS XVII Gorontalo
Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menegaskan bahwa manuver ini menjadi fondasi vital bagi Indonesia. Katalis B50 dan bioetanol diposisikan sebagai jembatan strategis untuk melepaskan ketergantungan negara dari jerat impor bahan bakar fosil sekaligus mengunci ketahanan energi berbasis sumber daya lokal.
Namun, instruksi paling keras dari Hambalang justru menyasar jantung manajemen perusahaan pelat merah. Di tengah ambisi kedaulatan energi, Presiden melayangkan perintah mutlak untuk memangkas habis lapisan organisasi yang menumpuk.
Anak dan cucu perusahaan di tubuh Pertamina, PLN, hingga BUMN lainnya wajib dirampingkan tanpa kompromi. Rantai birokrasi yang terlalu panjang dan berbelit selama ini terbukti menjadi parasit yang memperlambat ruang gerak BUMN.
Presiden menuntut korporasi milik negara kembali lincah, responsif, dan bebas dari entitas-entitas beban yang hanya menguras ongkos operasional. Penyederhanaan struktur ini dirancang bukan sekadar untuk formalitas efisiensi, melainkan agar setiap keputusan bisnis strategis dapat dieksekusi dengan kecepatan tinggi.
Pesan dari Hambalang sangat benderang. Indonesia sedang berlari kencang membangun kedaulatan energi dengan kekuatannya sendiri. Pada saat yang sama, seluruh BUMN harus dibersihkan dari struktur birokrasi tambun agar benar-benar produktif bekerja untuk kepentingan rakyat dan negara.(*)
