Menteri UMKM Maman Abdurrahman 'Semprot' Pengusaha Las di Cikarang: Produk Mau Dijual ke Mana?

Menteri-UMKM-Maman-Abdurrahman
Menteri UMKM Maman Abdurrahman saat memberikan arahan pada Deklarasi Nasional Asosiasi Pengusaha Pengelasan Indonesia APPI di Cikarang Jawa Barat

CIREBONINSIDER.COM — Narasi klasik bahwa Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) selalu terganjal modal resmi ditepis oleh pemerintah.

​Di hadapan ratusan pengusaha las nasional, Menteri UMKM Maman Abdurrahman melontarkan kritik menohok soal arah pembinaan industri kecil di tanah air.

​“Selama ini kita bicara UMKM seolah-olah masalahnya hanya modal. Padahal setelah modal diberikan dan kapasitas produksi naik, pertanyaannya satu: produknya mau dijual ke mana?” ujar Maman saat Deklarasi Nasional Asosiasi Pengusaha Pengelasan Indonesia (APPI) di Cikarang, Jawa Barat.

Baca Juga:Tembok Ketat Pasar Tokyo Jebol, Kadin Bawa Tiga Komoditas 'Emas' UMKM Naik KelasPerpres 38/2026 Terbit: Bye-Bye Pelatihan Formalitas, Pemerintah Rombak Total Arah Bisnis UMKM!

​Kritik tajam ini memotret realitas pahit industri pengelasan lokal yang terdesak gempuran barang impor. Lewat konsolidasi bersama APPI, pemerintah kini menggeser fokus dari sekadar bantuan modal menuju proteksi pasar—salah satunya dengan mengunci pasokan lokal untuk proyek Koperasi Desa hingga Sekolah Rakyat.

​Bukan cuma Modal, Ini soal Proteksi Pasar

​Maman menegaskan, menyuntikkan modal tanpa menjamin ekosistem pasar adalah langkah sia-sia. Keberlanjutan industri pengelasan dan manufaktur lokal sangat bergantung pada keberanian negara mengendalikan arus barang impor.

​Impor barang teknik dan hasil pengelasan dinilai masih membanjiri pasar domestik. Padahal secara kualitas dan presisi, teknisi serta bengkel lokal sudah sangat mampu memproduksinya.

​“Kalau barang itu sudah bisa dibuat oleh pengusaha kita sendiri, kenapa harus kita datangkan dari luar?” tegas Maman.

​Menurut Maman, setiap satu unit produk lokal yang terserap pasar akan langsung memicu efek berganda (multiplier effect): kapasitas bengkel meningkat, penyerapan tenaga kerja bertambah, dan perputaran uang tetap bertahan di dalam negeri.

​Tiga Benteng Tantangan Industri Pengelasan

​Kondisi riil di lapangan menunjukkan industri pengelasan nasional menghadapi tiga ganjalan utama yang saling berkaitan.

​Pertama, akses pasar yang terdesak. Bengkel lokal kerap kalah bersaing bukan karena kualitas, melainkan akibat banjir produk impor berharga murah yang tak terkendali.

Baca Juga:Lepas dari Jebakan Mikro, Strategi 5,4 Juta UMKM Jabar Tembus Rantai Pasok Nasional Lewat SAPA UMKM​Menakar Efektivitas SAPA UMKM, Solusi Nyata Naik Kelas atau Sekadar Aplikasi Baru?

​Kedua, kualifikasi yang belum merata. Standardisasi dan sertifikasi ahli las (welder) masih menjadi kendala besar untuk menembus proyek skala manufaktur presisi tinggi.

​Ketiga, penyerapan proyek daerah yang minim. Potensi pekerjaan infrastruktur di tingkat lokal sering kali lepas ke tangan vendor luar.

0 Komentar