Evaluasi BGN menunjukkan dua penyebab dominan kasus keracunan di lapangan: jeda waktu pengiriman dari dapur ke meja makan yang terlalu lama, serta pola simpan yang tidak higienis saat makanan dibawa keluar dari lingkungan sekolah.
Benteng Guru dan Pengawasan Digital SPPG
Menanggapi risiko tersebut, BGN menegaskan bahwa porsi MBG wajib dihabiskan di dalam kelas sesuai jadwal yang ditentukan. Guru diimbau menjadi benteng pengawasan terdepan untuk memastikan tidak ada ompreng yang lolos keluar gerbang sekolah.
Di jalur hulu, BGN juga memperketat sistem kendali mutu melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Setiap rantai proses—mulai dari pemilihan bahan baku, jam mulai memasak, hingga pengiriman armada—kini dipantau secara ketat melalui pencatatan digital real-time.
Baca Juga:BGN Naikkan Status Keracunan MBG Jadi Kejadian Fatal, Dapur Langsung Di-Suspend, Kepala SPPG DicopotMarak Keracunan, MBG Bisa Jadi Bom Waktu? Komisi IX DPR Sentil Manajemen ‘Setengah Matang’!
Langkah terpadu ini diharapkan dapat menjamin setiap piring makanan yang diterima para siswa tidak hanya bergizi tinggi, tetapi juga 100 persen aman dan segar.(*)
