Mitos Kalori Negatif Timun Terbongkar, Pakar Ungkap Manfaat Aslinya untuk Gula Darah

Irisan-Mentimun
Irisan timun segar renyah dengan latar belakang bahan makanan sehat untuk hidrasi dan kontrol gula darah. Foto: Ilustrasi/AI

CIREBONINSIDER.COM – Anggapan bahwa timun adalah makanan “kalori negatif” yang membakar energi tubuh saat dikunyah ternyata sepenuhnya mitos medis.

​Namun, fakta ilmiah mengungkap peran timun jauh lebih krusial. Sayuran renyah ini terbukti secara klinis menjadi senjata ampuh menjaga stabilitas gula darah, menekan kolesterol, hingga menyehatkan pencernaan.

​Mitos “Kalori Negatif”: Makanan Paling Mendekati, Tapi Bukan Nol

​Kerap dianggap otomatis ‘membakar’ kalori saat dikunyah, para pakar gizi internasional meluruskan persepsi salah kaprah tersebut.

Baca Juga:BPJS Kesehatan Defisit Rp2 Triliun Per Bulan, 55 Juta Kartu Peserta 'Mati'6 Buah yang Dapat Atasi Kolesterol Tinggi, Coba dan Rasakan Manfaatnya

​”Tidak ada yang namanya makanan berkalori negatif. Tetapi karena jumlah kalori mentimun sangat rendah, timun adalah makanan yang paling mendekati kategori tersebut,” tegas Prof. Gina Jarman Hill, Profesor Ilmu Gizi dari Texas Christian University.

​Didominasi air dan serat, timun menyajikan hidrasi padat nutrisi. Anda bisa mengonsumsinya tanpa khawatir memicu lonjakan energi berlebih.

​Benteng Diabetes dan Stabilisator Kolesterol

​Bagi penderita diabetes atau gangguan metabolik, timun adalah ramuan alami yang sangat aman. Efeknya terhadap glukosa darah tergolong minimal.

​Kuncinya ada pada profil nutrisi yang sangat ramah insulin. Dalam satu porsi sedang, timun hanya menyumbang sekitar 11 gram karbohidrat dan 1,5 gram serat pangan. Serat inilah yang bekerja memperlambat pencernaan sekaligus mencegah lonjakan gula darah secara mendadak.

​Dampaknya terhadap lemak darah juga bukan main-main. Uji klinis pada 2016 terhadap 47 pasien berkolesterol tinggi membuktikan hal itu. Konsumsi ekstrak biji mentimun rutin selama enam minggu terbukti signifikan menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida darah dibanding kelompok plasebo.

​”Timun memberikan segudang manfaat. Rasanya ringan, renyah, dan sangat fleksibel menjadi pengganti camilan olahan tinggi kalori seperti keripik,” jelas Prof. Kimberly Dong dari Fakultas Kedokteran Universitas Tufts.

​Acar Fermentasi vs Acar Cuka: Jangan Salah Pilih!

​Sisi unik timun juga terletak pada olahannya. Namun, perhatikan cara pembuatannya sebelum membeli.​Acar yang direndam air garam alami dan mengalami fermentasi kaya akan probiotik atau bakteri baik. Kandungan ini efektif meredakan peradangan sistemik dan memperkuat mikrobioma usus.

Baca Juga:Cirebon Gagal UHC 2025: DPRD 'Suntik' Dana Pokir demi Selamatkan Jaminan Kesehatan WargaManfaat Buah Alpukat bagi Kesehatan, Cegah Berbagai Penyakit Serius 

​Sebaliknya, acar biasa yang dipasteurisasi atau dibuat menggunakan cuka telah kehilangan bakteri baiknya. Proses kimiawi tersebut mematikan kultur hidup probiotik.

0 Komentar