Skandal Beras Fortifikasi Rp71 T, Mentan Amran Gandeng Aktivis "Gebuki" Mafia Pangan!

Mentan-Andi-Amran-Sulaiman
Slide presentasi Mentan Amran Sulaiman menampilkan \'Hasil Pengawasan Beras Fortifikasi\' dengan data kerugian konsumen Rp71,9 Triliun dalam pertemuan dengan organisasi mahasiswa. Foto: Istimewa/ Doc Kementan

CIREBONINSIDER.COM — Praktik culas di sektor pangan nasional kembali dibongkar. Beras fortifikasi yang sejatinya dialokasikan untuk warga miskin dan pencegahan stunting, malah disulap menjadi komoditas komersial premium. Harganya melejit hingga Rp42.000 per kilogram di rak-rak supermarket.

​Langkah ini diperkirakan memicu potensi kerugian konsumen hingga angka fantastis: Rp71 triliun.

​Tak tinggal diam, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengambil langkah konfrontatif. Mengantongi perintah langsung dari Presiden Prabowo Subianto, Amran mendeklarasikan perang terbuka melawan para “begal” beras tersebut.

Baca Juga:Tamparan Keras Mentan Amran di UMJ, Pilih Banting Tulang Sekarang atau Sengsara 15 Tahun Lagi!Skandal Beras Fortifikasi 'Gizi Super' Rp71 Triliun Meledak, 80 Persen Produk Dijual Palsu!

​Kali ini, kekuatan sipil dirangkul. Puluhan organisasi mahasiswa dan kepemudaan dikumpulkan langsung di kediamannya di Jakarta, Minggu.

​”Nyaliku Bertambah 20!”

​Suasana diskusi berlangsung hangat sekaligus tegang. Amran secara eksplisit meminta komitmen ketat dari para aktivis muda.

​”Jadi sudah sepakat (kasus kecurangan beras) fortifikasi kita gebuki ya?” tanya Amran disambut teriakan kompak peserta, “Setuju!” ​Dukungan penuh itu membakar semangat sang Menteri.

​”Tenang, saya gebuki. Tadi subuh nyaliku 10, sekarang bertambah 20. Saya percepat itu gebuki!” tegas Mentan dengan nada bernyawa.

​Ketegasan ini bukan gertak sambal. Amran menegaskan bahwa beras medium yang sengaja dikemas ulang (rebranding) menjadi beras fortifikasi mahal adalah kejahatan kemanusiaan. Praktik ini secara langsung merampas hak pangan gizi terjangkau bagi masyarakat rentan, buruh, hingga keluarga petani miskin.

​Konsolidasi 29 Elemen Pemuda

​Aksi manipulasi komoditas ini dinilai sebagai ancaman nyata bagi program ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu, Amran mengajak pemuda tak terkecoh oleh isu-isu pengalihan perhatian (smear campaign).

​Langkah penyelamatan pangan ini didukung oleh gelombang aktivis lintas gerakan. Sebanyak 29 elemen organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan menyatakan siap bersatu.

Baca Juga:Target Juli 2026: Prabowo Genjot KDMP, Mampukah Hapus 'Penyakit' Kelangkaan LPG dan Beras di Cirebon?Produksi Beras Nasional Naik, Petani Kapetakan Cirebon Justru Tercekik Biaya Produksi Akibat Banjir Berulang

​Barisan utama diperkuat oleh elemen Cipayung Plus seperti PB PMII, HMI, KOHATI, IMM, KAMMI, serta Gerakan Pemuda Ansor. Dukungan juga mengalir dari konsolidasi BEM dan gerakan mahasiswa nasional, termasuk Aliansi BEM SI, IKA BEM Nusantara, PERMAHI, KNPI, Pemuda Kosgoro, Rembuk Pemuda, JAGATARA, Duta Pancasila Paskibraka Indonesia, serta PISPI.

​Di kelompok pelajar dan organisasi berbasis keagamaan, bergabung IPNU, Fatayat NU, Pemuda PERSIS, Hima PERSIS, Pelajar Islam Indonesia (PII), IPM, PP Pemuda Hidayatullah, dan PP Gerakan Mahasiswa Hidayatullah.

0 Komentar