CIREBONINSIDER.COM — Pemerintah Provinsi Jawa Barat kini tengah berpacu dengan waktu untuk menuntaskan proyek strategis nasional di tingkat akar rumput.
Berdasarkan instruksi langsung Presiden RI Prabowo Subianto, sebanyak 3.600 unit Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di seluruh wilayah Jabar ditargetkan harus rampung dan beroperasi penuh pada akhir Juli 2026.
Langkah akselerasi ini memicu diskusi hangat di wilayah Cirebon Raya (Ciayumajakuning). Sebagai salah satu sentra pangan sekaligus area dengan garis pantai panjang, kehadiran KDKMP diharapkan tidak sekadar menjadi seremonial politik, melainkan obat penawar bagi “penyakit menahun” carut-marut distribusi logistik di pelosok desa.
Baca Juga:LPG 3 Kg Bakal Diganti CNG, Harga Lebih Murah 30 Persen: Akankah Dapur Warga Cirebon Lebih Ngebul?Satu Solusi Gebuk Bank Emok: KDMP Bakal Jadi Penyelamat Ekonomi Warga Kapetakan hingga Mundu?
Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, menegaskan bahwa jaringan koperasi ini dirancang sebagai episentrum baru pemenuhan hajat hidup orang banyak secara mandiri.
“Jadi tidak ada lagi ke depan alasan masyarakat sulit mendapatkan gas LPG, sulit membeli beras, dan kebutuhan pokok lain sebagainya,” ujar Erwan secara daring saat menghadiri Peluncuran 1.061 Titik KDKMP Wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah yang dipusatkan di Desa Cilame Perum, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (16/5/2026).
Memutus Gurita Tengkulak dan Mafia Distribusi di Cirebon
Bagi masyarakat pedesaan di Kabupaten Cirebon, Indramayu, hingga Kuningan, janji manis kemudahan akses pangan dan energi ini adalah angin segar yang dinanti.
Sudah menjadi rahasia umum, problem klasik seperti kelangkaan Gas LPG 3 kg saat musim melaut atau fluktuasi harga beras medium saat musim paceklik kerap kali dipicu oleh panjangnya rantai distribusi dan ulah para spekulen.
Melalui KDKMP, komoditas vital tersebut akan dipasok langsung ke jantung pertahanan desa tanpa harus melewati berlapis-lapis broker.
Presiden RI Prabowo Subianto dalam sambutannya mengklaim bahwa operasionalisasi KDKMP secara masif ini merupakan langkah besar yang belum tentu sanggup ditiru oleh negara lain. Blueprint koperasi ini dirancang matang, bukan sekadar papan nama tanpa aktivitas ekonomi.
“Gedungnya ada, gudangnya ada, sistemnya ada, barangnya ada, petugasnya ada, unsur-unsur logistiknya ada; ada truk, ada pick up, ada kendaraan roda tiga,” tegas Presiden Prabowo.
