CIREBONINSIDER.COM – Universitas Wiralodra (Unwir) Indramayu resmi mencatat sejarah baru dalam perjalanannya akademiknya. Untuk pertama kalinya, tampuk kepemimpinan tertinggi kampus terbesar di Bumi Wiralodra ini resmi dipegang oleh seorang perempuan, Prof. Dr. Ipong Dekawati, M.Pd.
Namun, di balik atmosfer historis prosesi pelantikan Rektor periode 2026–2030 yang berlangsung khidmat di Aula Nyi Endang Dharma Ayu, Senin (18/5/2026), sebuah tantangan makro yang cukup berat langsung menghadang di depan mata.
Unwir kini berada di titik persimpangan krusial: melakukan lompatan besar di era kecerdasan buatan (AI) atau ikut tergerus oleh gelombang rasionalisasi perguruan tinggi swasta (PTS) yang mulai memakan korban di wilayah Jawa Barat.
Baca Juga:Diikuti Lucky Hakim, Gerakan Koperasi Merah Putih Presiden Prabowo Sasar Jantung Industri Krupuk IndramayuPangkas Birokrasi Ruwet, Indramayu Siapkan Aplikasi Khusus Pengikat Investasi Kakap
Sinyal Merah LLDIKTI: Jumlah Kampus di Indramayu Mulai Menyusut
Realitas mengenai beratnya beban yang akan dipikul oleh rektor baru ini dikonfirmasi langsung oleh Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Dr. Lukman.
Dalam forum tersebut, Lukman membuka data yang cukup mengejutkan terkait peta kekuatan pendidikan tinggi di Indramayu.
”Saat ini di Indramayu terdapat sembilan perguruan tinggi, dan dalam waktu dekat akan berkurang menjadi delapan,” ungkap Lukman secara terbuka.
Penyusutan jumlah institusi ini menjadi sinyal kuat bahwa mengelola perguruan tinggi di daerah saat ini tidak lagi bisa menggunakan cara-cara konvensional.
Biaya operasional yang tinggi, ketatnya persaingan perolehan mahasiswa baru, serta kewajiban memenuhi instrumen akreditasi yang ketat, memaksa sejumlah kampus kecil untuk mengambil langkah merger atau rasionalisasi.
Bagi Unwir, realitas ini adalah alarm penting. Sebagai kampus yang selama 12 tahun terakhir dipimpin oleh Prof. Dr. H. Ujang Suratno, S.H., M.Si., Unwir di bawah nakhoda Prof. Ipong dituntut tidak sekadar bertahan, melainkan melompat menuju status Akreditasi Unggul.
Respons Bupati Lucky Hakim Terhadap Tantangan Digitalisasi
Bupati Indramayu, Lucky Hakim, yang hadir langsung dalam pelantikan tersebut menegaskan bahwa pemerintah daerah menaruh harapan besar pada momentum perubahan kepemimpinan ini.
Baca Juga:Bongkar Strategi Nine Box Grid di Indramayu: Cara Lucky Hakim Saring Birokrat Kotak 9, Bebas Titipan Politik?Sindir Riset "Laci", Mentan Amran Gandeng BRIN & 18 Kampus: Paksa Inovasi Turun ke Sawah!
Menurut Lucky, kehadiran Prof. Ipong adalah bukti inklusivitas serta keterbukaan dunia pendidikan di Indramayu yang memberikan ruang setara tanpa memandang gender.
