CIREBONINSIDER.COM — Praktik culas di sektor pangan nasional kembali terbongkar. Beras fortifikasi—produk yang digadang-gadang kaya vitamin untuk menekan angka stunting—justru dijadikan ajang bancakan mafia pangan.
Tak main-main, potensi kerugian masyarakat akibat ulah nakal ini ditaksir menembus angka fantastis: Rp71 triliun.
Kementerian Pertanian (Kementan) mengendus kejanggalan ini setelah menguji sampel dari 14 sentra produksi beras nasional, mulai dari Pulau Jawa, Lampung, hingga Sulawesi.
Baca Juga:Tamparan Keras Mentan Amran di UMJ, Pilih Banting Tulang Sekarang atau Sengsara 15 Tahun Lagi!Penyakit Terbesar Anak Muda Bukan Modal, Mentan Amran: Itu Rasa Gengsi!
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan fakta mengejutkan. Dari seluruh produk terdaftar yang diuji laboratorium, 80 persen beras fortifikasi yang beredar di pasaran ternyata tidak memenuhi standar mutu.
Modus Culas: Kulit Beras Premium, Isi Kualitas Bawah
Beras fortifikasi sejatinya adalah beras biasa yang diperkaya nutrisi dan vitamin. Harusnya, harganya tetap terjangkau untuk masyarakat berpenghasilan rendah.
Namun di lapangan, kondisinya justru berbalik 180 derajat.
”Barang ini kualitasnya untuk harga Rp8.000 per kg, tapi dijual Rp17.000 per kg. Ada yang lebih ekstrem lagi, dijual sampai Rp42.000 per kg, padahal sama sekali bukan beras fortifikasi,” tegas Amran di Jakarta.
Konsumen tergiur dengan klaim “beras bergizi tinggi”. Mereka membayar harga melangit. Padahal, isi di dalam kemasan hanyalah beras mutu rendah tanpa tambahan vitamin.
”Ini bentuk penipuan. Hak gizi rakyat dirampas,” tambah Mentan.
10 Laboratorium Dikerahkan, Subsidi Pangan Rp164 Triliun Terancam
Pemerintah tak mau gegabah. Demi mengunci bukti ilmiah yang sah di mata hukum, pengujian sampel ditangani hingga 10 laboratorium independen.
Dari laporan tiga laboratorium pertama saja, mayoritas sampel terbukti bodong. Dari total 15 merek yang diperiksa, hampir semuanya gagal memenuhi klaim teknis penambahan nutrisi.
Kejahatan ini terasa kian menyakitkan. Pasalnya, seluruh produksi beras nasional dibangun di atas kucuran dana APBN yang sangat besar.
Baca Juga:Gedor Proyek Benih Rp9,95 T, Mentan Amran Gandeng KPK: Nakal Langsung Blacklist!Kerugian Petani Tembus Rp3,3 Triliun, Mentan Amran Cabut 2.231 Izin Distributor Pupuk Nakal!
Nilai subsidi sektor pangan yang sebelumnya mencatatkan angka Rp144 triliun kini membengkak menjadi sekitar Rp164 triliun pada tahun 2026.
Dana jumbo itu mengalir untuk subsidi pupuk, benih, irigasi, listrik, hingga traktor. Ketika hasilnya dimanipulasi demi meraup untung pribadi, rakyat dan negara dirugikan berlipat ganda.
