Produksi Beras Nasional Naik, Petani Kapetakan Cirebon Justru Tercekik Biaya Produksi Akibat Banjir Berulang

Lahan-Sawah-Tergenang-Banjir
Lahan persawahan di Kapetakan Cirebon saat terendam banjir besar akibat curah hujan dan luapan sungai. Terlihat pohon-pohon kecil terisolasi di tengah genangan air cokelat yang luas di bawah langit mendung. Foto: Tangkapan layar video warga

CIREBONINSIDER.COM – Di balik gemilangnya angka statistik produksi beras nasional tahun 2026, tersimpan kontras tajam di wilayah pesisir Cirebon.

Saat pemerintah memamerkan lonjakan Nilai Tukar Petani (NTP), para petani di Kecamatan Kapetakan justru harus berjibaku dengan pembengkakan biaya produksi akibat siklus banjir yang seolah menjadi “tradisi” tahunan.

​Anomali Angka Kesejahteraan

​Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) per 4 Mei 2026, NTP Subsektor Tanaman Pangan nasional melonjak ke angka 112,29.

Baca Juga:El Nino 2026: Ancaman Kemarau Ekstrem Bayangi Indramayu, Stok Beras Nasional DipertaruhkanRekor Stok Beras 22,5 Juta Ton: Benteng Pangan Nasional atau Sekadar Angka di Atas Kertas?

Angka ini didukung oleh proyeksi produksi beras Januari-Juni 2026 yang menembus 19,31 juta ton, naik 0,26 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

​Namun, bagi petani di Desa Pegagan, Dukuh, Karangkendal, Grogol, dan Kapetakan, angka tersebut terasa sangat jauh dari realitas.

Wilayah ujung timur Cirebon ini terus-menerus menjadi “waduk kiriman” dari wilayah atas yang tak mampu dialirkan ke laut.

​Penyumbatan Hilir: Biaya Tanam Jadi Berkali Lipat

​Masalah utama terletak pada rusaknya ekosistem pengairan. Hilir sungai di wilayah pesisir, seperti Sungai Sriganala, Tumaritis, dan Kayem, mengalami penyempitan parah dan sedimentasi yang menumpuk. Akibatnya, air tidak hanya menggenang karena curah hujan, tapi juga karena kiriman yang tersumbat di muara.

​Kondisi ini memaksa petani melakukan proses tanam berkali-kali. Benih yang baru disebar kerap busuk terendam banjir, menuntut modal tambahan yang tidak sedikit untuk memulai kembali dari nol. Inilah “lubang hitam” yang menyedot kenaikan harga gabah yang mereka terima.

​Suara dari Karangkendal

​Kang Dul, salah satu tokoh petani dari Desa Karangkendal, menegaskan bahwa kunci kemakmuran mereka bukan hanya pada subsidi pupuk, melainkan pada normalisasi sungai yang konkret.

​”Jika masalah ujung sungai baik Kayem, Tumaritis, maupun Sriganala bisa ditangani dengan serius, insyaallah para petani Karangkendal khususnya, dan Kapetakan umumnya, akan sejahtera,” tutur Kang Dul dengan nada tegas.

Baca Juga:Bungkam Spekulasi Global, Indonesia Amankan Swasembada Beras 2026, Stok Bulog Pecah Rekor SejarahDPR Desak Pemerintah Bongkar Detail Impor 1.000 Ton ‘Beras Khusus’ Amerika Serikat

​Menagih Komitmen Swasembada

​Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, sebelumnya menyatakan bahwa Indonesia telah mencapai stok Bulog tertinggi sepanjang sejarah tanpa impor beras umum sejak 2025.

Capaian ini diklaim sebagai bukti kesejahteraan petani yang membaik.​Namun, publik di Ciayumajakuning berharap pencapaian nasional ini dibarengi dengan keberanian pemerintah melakukan mitigasi bencana pertanian di level mikro.

0 Komentar