Siasat Dapur Berdikari: Ubah Ember Jadi Lumbung Pangan Keluarga

Budikdamber-Megatani
Anggota DPR RI Sarifah Ainun Jariyah menyerahkan bantuan paket Budikdamber Megatani kepada warga Curug Serang untuk ketahanan pangan mandiri. Foto: Ilustrasi/AI

CIREBONINSIDER.COM – Di tengah ancaman alih fungsi lahan yang kian masif dan fluktuasi harga komoditas yang tak menentu, sebuah gerakan “revolusi meja makan” mulai dikobarkan dari gang-gang sempit pemukiman warga.

Ketahanan pangan kini tak lagi melulu soal hamparan sawah, melainkan tentang optimasi ruang di teras rumah.

​Melalui inisiatif bertajuk Megatani, Anggota DPR RI Dapil Banten II, Sarifah Ainun Jariyah, memperkenalkan teknik Budikdamber (Budidaya Ikan dalam Ember) sebagai jawaban konkret atas keterbatasan lahan di wilayah urban.

Baca Juga:Pangkas Target 4 Tahun Jadi 1,5 Tahun, Mentan Amran Buktikan Ketahanan Pangan RI Bukan Sekadar AngkaUji Nyali Ketahanan Pangan 2026: Di Balik Klaim 'Aman' 324 Hari dan Bayang-bayang El Nino

Program yang diluncurkan di Kecamatan Curug, Kota Serang, Rabu (29/4/2026) ini, memicu optimisme baru bagi kemandirian ekonomi rumah tangga.

​Ekologi Sirkular: Satu Wadah, Dua Panen

​Teknologi Budikdamber yang diusung Megatani bukan sekadar budidaya biasa. Ini adalah sistem ekologi sirkular yang efisien: kotoran ikan lele yang kaya amonia diproses menjadi pupuk alami bagi tanaman kangkung di atasnya.

Sebaliknya, akar sayuran bertindak sebagai biofilter yang menjaga kejernihan air bagi ikan di bawahnya.

​”Lewat Megatani, warga bisa memanen protein hewani dan vitamin sekaligus hanya dalam satu wadah sederhana. Ini adalah cara kita memastikan dapur warga tetap ‘ngebul’ dengan asupan gizi yang terkontrol dan sehat,” ujar Sarifah saat menyerahkan paket bantuan berupa ember modifikasi, benih lele, dan bibit sayuran kepada puluhan warga.

​Politisi dari Fraksi PDI-Perjuangan ini menekankan bahwa kemandirian bangsa harus dimulai dari filosofi Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Dengan memproduksi pangan secara mandiri, keluarga tidak lagi sepenuhnya bergantung pada dinamika harga pasar yang kerap dipengaruhi gejolak global.

​Sentuhan Lokal: Cermin untuk Ciayumajakuning

​Fenomena keterbatasan lahan di Serang ini sebenarnya menjadi alarm bagi wilayah tetangga seperti Cirebon dan sekitarnya. Di kawasan padat penduduk seperti pusat Kota Cirebon, ruang terbuka hijau kian terhimpit beton pembangunan.

Baca Juga:Perkuat Ketahanan Pangan, Wabup Indramayu Salurkan Zakat Mal Pertanian di Desa BabadanTEROBOSAN CIREBON: Rp3,5 Miliar untuk Koperasi Kelurahan, Motor Ekonomi Lokal dan Pilar Ketahanan Pangan

​Adopsi model Megatani menjadi sangat relevan bagi masyarakat di wilayah Ciayumajakuning. Jika model ini direplikasi secara masif, masyarakat pesisir maupun urban di Cirebon dapat memiliki “cadangan logistik” pribadi.

Transformasi dari konsumen menjadi produsen pangan skala mikro ini diyakini mampu menekan angka pengeluaran harian sekaligus menjaga kualitas nutrisi keluarga, terutama bagi tumbuh kembang anak.

0 Komentar