Tembus 13,92 Ton per Hektare, Produktivitas Padi Juntinyuat Indramayu Pecahkan Rekor Lokal

Ubinan-Padi-Juntikedokan-Indramayu
Kegiatan ubinan padi di Juntikedokan Indramayu menunjukkan hasil produktivitas 13,92 ton per hektare pada panen raya Mei 2026. Foto: Humas Pemkab Indramayu

CIREBONINSIDER.COM– Di tengah bayang-bayang tantangan iklim, sebuah angka optimistis muncul dari hamparan sawah di Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu.

Bukan angka biasa, hasil kegiatan ubinan di wilayah ini mencatatkan estimasi produktivitas yang fantastis: 13,92 ton per hektare Gabah Kering Panen (GKP).

​Capaian ini menjadi perhatian serius mengingat rata-rata produktivitas padi di wilayah sekitar biasanya hanya bertengger di angka 7,7 ton per hektare.

Baca Juga:Cirebon-Yangjiang Perkuat Sister City: Fokus Hilirisasi Perikanan dan Pertanian di Kawasan RebanaPerkuat Ketahanan Pangan, Wabup Indramayu Salurkan Zakat Mal Pertanian di Desa Babadan

Lonjakan hampir dua kali lipat ini seolah menjadi sinyal kuat bahwa swasembada pangan bukan sekadar target di atas kertas.

Anatomi Keberhasilan di Blok Buyut Kunir

Senin (4/5/2026), tim dari Pemerintah Kecamatan Juntinyuat bersama jajaran pertanian turun langsung ke Blok Buyut Kunir, Desa Juntikedokan.

Di lahan milik H. Warnidi, Ketua Kelompok Tani Srikandi, proses ubinan dilakukan secara presisi dengan sampel lahan berukuran 2,5 times 2,5 meter.

Camat Juntinyuat, Ali Alamudin, menjelaskan bahwa ubinan adalah cara paling akurat untuk mengintip nasib panen petani.

“Hasil timbangan ubinan mencapai 8,7 kilogram. Jika dikonversikan secara luas, kita menyentuh angka 13,92 ton per hektare,” ungkap Ali dengan nada optimis.

Data teknis menunjukkan kualitas tanaman yang luar biasa: terdapat 56 rumpun dalam satu titik sampel, dengan jumlah anakan berkisar antara 50 hingga 60 per rumpun. Menariknya, seluruh anakan tersebut berhasil menghasilkan malai (bulir padi) yang berisi padat.

Duet Maut: Varietas Unggul dan Intervensi Hayati

Lantas, apa yang membedakan lahan di Juntikedokan ini dengan lahan lainnya? H. Warnidi membeberkan bahwa kuncinya terletak pada adopsi teknologi pertanian tepat guna.

Baca Juga:Perkuat Status Lumbung Padi Nasional, Pemkab Indramayu dan BI Cirebon Akselerasi Teknologi PertanianTransformasi Pertanian di Indramayu: Sinergi Energi dan Pangan

​Ia mengombinasikan Varietas Ciherang Cap Beruang dengan penggunaan pupuk hayati cair Extragen sebagai pembenah tanah.

“Pemberian pupuk dilakukan minimal dua kali; sebelum tanam dan pada masa awal pertumbuhan, lalu diperkuat dengan pemupukan tabur,” jelas Warnidi.

​Strategi ini terbukti ampuh meningkatkan jumlah anakan padi secara signifikan, yang secara otomatis mendongkrak jumlah gabah saat panen tiba.

​Evaluasi Strategis untuk Ketahanan Pangan

Kepala UPTD Pertanian dan Ketahanan Pangan Kecamatan Juntinyuat, Rido Mardianto, menegaskan bahwa data ini akan menjadi “buku putih” untuk langkah strategis ke depan.

0 Komentar