“Data ubinan ini bukan sekadar angka, tapi pijakan evaluasi. Kami ingin pola sukses di Juntikedokan ini bisa direplikasi di desa-desa lain,” tegasnya.
Sinergi antara pemerintah, petugas lapangan, dan petani ini memang menjadi kunci. Bahkan, Koordinator Relawan Revolusi Kecamatan Juntinyuat yang turut mengawal kegiatan ini menaruh harapan besar pada stabilitas harga.
“Hasil sudah melimpah, sekarang tugas kita memastikan harganya bagus agar kesejahteraan petani benar-benar terjaga,” ujarnya.Pencapaian di Juntinyuat ini mematahkan skeptisisme bahwa produktivitas padi lokal telah mencapai titik jenuh. Dengan sentuhan teknologi hayati dan pendampingan lapangan yang intensif, angka 13 ton per hektare bukan lagi mustahil.
Baca Juga:Cirebon-Yangjiang Perkuat Sister City: Fokus Hilirisasi Perikanan dan Pertanian di Kawasan RebanaPerkuat Ketahanan Pangan, Wabup Indramayu Salurkan Zakat Mal Pertanian di Desa Babadan
Bagi Indramayu, ini adalah pembuktian jati diri sebagai lumbung pangan nasional yang tetap tangguh di tahun 2026.(*)
