CIREBONINSIDER.COM – Masa depan pelestarian cagar budaya Indonesia tengah diuji oleh kontras yang ironis. Di saat DPR RI mendorong langkah radikal agar hasil riset sejarah dikemas modern menjadi film dan game digital, realita di akar rumput justru memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan: situs-situs sejarah lokal harus bertahan hidup dengan mengandalkan uang kencleng swadaya.
Persoalan ini mencuat dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panitia Kerja (Panja) Pelindungan dan Pemanfaatan Cagar Budaya Komisi X DPR RI bersama BRIN, ANRI, dan Badan Pengelola BUMN di Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Komisi X mendesak adanya intervensi finansial dari BUMN pariwisata untuk menyokong ekosistem kebudayaan yang kini terseok-seok akibat keterbatasan anggaran negara.
Baca Juga:Menguak Misteri Ki Buyut Selawe Cirebon: Kisah 'Kebo Bule' dan Logika Mistis Lepasnya Timor LesteKekurangan Anggaran, Aula Doa Situs Buyut Selawe Cirebon Rampung 75% lewat Keringat PMI dan Kencleng Sukarela
Putus Rantai “Jurnal Berdebu” lewat Pop Culture
Anggota Komisi X DPR RI, Once Mekel, menyoroti realitas bahwa banyak penelitian sejarah berakhir tragis hanya sebagai tumpukan jurnal di rak akademik. Baginya, pengetahuan masa lalu seharusnya menjadi identitas bangsa yang hidup dan relevan dengan Gen Z serta Milenial.
Once mendesak agar BRIN segera melakukan hilirisasi konten ilmiah ke dalam medium kreatif populer seperti film dokumenter, animasi, hingga permainan interaktif (digital game).
”Hasil riset jangan hanya untuk para ilmuwan atau pemerhati saja. Kita perlu mengemasnya menjadi konten yang fun buat anak muda tanpa mengurangi kredibilitasnya,” tegas legislator Fraksi PDI Perjuangan tersebut.
Sentilan untuk BUMN: Jangan Cuma Ambil Untung di Hilir
Namun, gagasan populer tersebut dinilai mustahil terwujud jika fondasi dasar—yakni fisik situs dan riset ekskavasi di lapangan—dibiarkan telantar. Di sinilah kritik tajam ditiupkan oleh Anggota Komisi X DPR RI lainnya, Bonnie Triyana.
Bonnie menyentil Badan Pengelola BUMN yang mengeruk keuntungan finansial masif dari sektor pariwisata berbasis budaya di situs-situs besar. Melalui PT Taman Wisata Candi, BUMN mengelola Borobudur, Prambanan, hingga Ratu Boko untuk menghasilkan pendapatan signifikan dari penjualan tiket maupun sektor hospitality.
Menurut Bonnie, sudah semestinya sebagian keuntungan tersebut dikembalikan ke hulu untuk mendanai ekskavasi arkeologi, dokumentasi sejarah, dan pengayaan narasi situs.
