Senayan Minta Riset Sejarah Jadi Game Populer, Situs Buyut Selawe malah Andalkan Kencleng dan Donasi TKI!

Situs-Ki-Buyut-Selawe-Cirebon
Juru Kunci Wahyu berdiri di depan bangunan Situs Ki Buyut Selawe Cirebon yang sedang direvitalisasi pada bagian rangka atapnya. Foto: Istimewa/doc. Cirebon Insider

​”Pariwisata itu kan di hilir. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana keberimbangan antara menghasilkan keuntungan dengan memastikan tata kelola kebudayaannya tetap berjalan dengan baik,” ujar Bonnie.

​Tamparan Realitas dari Kapetakan Cirebon

​Desakan Komisi X DPR RI agar BUMN dan pemerintah pusat turun tangan bukanlah tanpa alasan. Jika di Jakarta para pemangku kebijakan berbicara tentang digitalisasi dan industri kreatif, realita pahit di lapangan justru memaksa pengelola cagar budaya lokal mengambil skala prioritas yang ekstrem demi menyambung hidup.

​Kondisi ini terjadi nyata di Cirebon Utara. Ikhtiar menyelamatkan Situs Buyut Krayunan dan Nyi Selawe di Desa Grogol, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, kini berada dalam dilema akut.

Baca Juga:Menguak Misteri Ki Buyut Selawe Cirebon: Kisah 'Kebo Bule' dan Logika Mistis Lepasnya Timor LesteKekurangan Anggaran, Aula Doa Situs Buyut Selawe Cirebon Rampung 75% lewat Keringat PMI dan Kencleng Sukarela

Memasuki akhir Juni 2026, progres fisik rehabilitasi total bangunan cagar budaya “Pribumi Pertama” ini mandek di angka 75 persen karena ketiadaan biaya.

​Keterbatasan anggaran yang kritis memaksa pihak panitia mendahulukan renovasi Aula Tahlil demi keselamatan peziarah dari ancaman atap lapuk yang rawan ambruk. Sementara itu, area makam inti sang tokoh sejarah—Buyut Krayunan (Ki Tarsiman) dan Nyi Selawe—terpaksa mengalah dan dibiarkan terkunci tanpa tersentuh material baru.

​Napas Finansial dari TKI dan Uang Kencleng

​Tragisnya, megaproyek penyelamatan identitas sejarah Cirebon ini berjalan tanpa sokongan dana sepeser pun dari instansi formal, baik dari Pemerintah Desa (Pemdes) Grogol maupun dinas terkait di tingkat kabupaten.

​Juru Kunci (Kuncen) Situs Buyut Selawe, Wahyu, membeberkan bahwa demi mencegah proyek mangkrak total, pihaknya terpaksa mengandalkan patungan sukarela dari rumah ke rumah serta kedermawanan para Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Cirebon yang sedang mengadu nasib di luar negeri.

​”Kalau pun ada sumbangan dari pejabat atau pihak instansi, kemungkinan besar itu atas nama pribadi, bukan dari serapan anggaran resmi kelembagaan,” ungkap Wahyu dengan nada getir.

​Padahal, secara historis dan geografis, Situs Buyut Selawe yang berseberangan dengan Situs Syekh Magelung Sakti memiliki potensi besar sebagai ekosistem wisata religi terpadu yang mampu mendongkrak ekonomi makro daerah.

Namun, ketiadaan infrastruktur penunjang seperti terminal bus pariwisata dan jalan yang memadai justru memperparah isolasi ekonomi di poros sejarah ini.

0 Komentar