CIREBONINSIDER.COM— Ancaman banjir rob yang menahun dan laju sedimentasi yang kian mencekik kawasan pesisir Kota serta Kabupaten Cirebon akhirnya mendapat respons konkret dari pemerintah pusat.
Melalui sinergi antara Pemerintah Kota Cirebon dan Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ), proyek strategis nasional Giant Sea Wall (Tanggul Laut Raksasa) kini memasuki babak krusial: pematangan desain dan pengumpulan data lapangan.
Langkah ini menjadi angin segar sekaligus tantangan besar bagi tata ruang wilayah Pantura Jawa Barat. Pesisir Cirebon yang membentang sepanjang tujuh kilometer kini sedang berkejaran dengan waktu melawan penurunan muka tanah (land subsidence) dan hantaman gelombang pasang.
Baca Juga:Kemenpora Cari Sosok Deputi Industri Olahraga, Komisi X DPR: Harus Relevan dan Berani Terobosan!Cirebon Tak Cukup Andalkan APBD, DPRD Nekat Jemput Bola ke Kementerian PU demi Bereskan Jalan dan Banjir
Cirebon Masuk Fase Kedua: Target Eksekusi Akhir 2027
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cirebon, Iing Daiman, mengungkapkan bahwa pertemuan intensif dengan jajaran BOPPJ pada Kamis (11/6) menjadi momentum krusial untuk menyelaraskan kebutuhan riil di lapangan dengan cetak biru (blueprint) pemerintah pusat.
”Program ini merupakan salah satu program strategis nasional untuk menangani kawasan pesisir Pantura agar dampak rob dan sedimentasi tidak semakin besar,” ujar Iing Daiman di Cirebon, Jumat.
Namun, masyarakat Cirebon tampaknya masih harus bersabar. Iing menjelaskan bahwa wilayah Cirebon Raya (Kota dan Kabupaten) diplot ke dalam tahap kedua pelaksanaan mega proyek ini.
Pemerintah pusat saat ini masih memprioritaskan penyelesaian proyek serupa di DKI Jakarta dan Semarang yang tingkat kerentenannya dinilai lebih darurat.
Estimasi Waktu: “Kalau berdasarkan rencana, paling cepat pelaksanaannya pada akhir 2027 karena sekarang masih tahap pendataan dan analisis kebutuhan,” tambah Iing.
Potret Lapangan: Mengapa Pesisir Cirebon Mendesak Diselamatkan?
Bukan tanpa alasan Cirebon menjadi titik krusial dalam radar BOPPJ. Hasil analisis awal menunjukkan indikator kerentanan lingkungan di pesisir Cirebon sudah masuk dalam kategori lampu kuning.
Tim BOPPJ dilaporkan telah turun langsung melakukan survei mikro di kawasan terdampak paling parah, di antaranya:
Baca Juga:Rob Jadi Tantangan Nyata Ekosistem Pendidikan di Losari CirebonEpisentrum Medis Ciayumajakuning: PMI Kota Cirebon Fokus Digitalisasi Stok Darah dan Mitigasi Rob
– Kecamatan Lemahwungkuk: Wilayah pemukiman padat nelayan yang kerap menjadi langganan banjir rob setinggi lutut orang dewasa saat pasang tertinggi.
– Kecamatan Kejaksan: Pusat aktivitas ekonomi pesisir yang rentan terhadap abrasi dan penurunan kualitas lingkungan akibat sedimentasi muara sungai.
