CIREBONINSIDER.COM — Angin kencang dan air pasang laut Jawa tidak hanya mengikis garis pantai di wilayah pesisir Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon. Lebih dari itu, abrasi kronis dan terjangan banjir rob yang kian tidak terprediksi di kawasan ini mulai mengancam masa depan pendidikan anak-anak nelayan.
Potret buram di lapangan tersebut menjadi kontras yang tajam dengan target besar Pemerintah Kabupaten Cirebon yang menghendaki nol angka putus sekolah. Ketika para pengambil kebijakan merumuskan strategi “ekosistem pendidikan yang berkeadilan”, realitas di garis pantai justru memperlihatkan tantangan geografis dan ekonomi yang luar biasa berat.
Benang kusut ini mencuat dalam Pertemuan Refleksi dan Perencanaan Daerah Mitra yang diselenggarakan oleh Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) di Hotel Patra Cirebon, 3–4 Juni 2026.
Baca Juga:Episentrum Medis Ciayumajakuning: PMI Kota Cirebon Fokus Digitalisasi Stok Darah dan Mitigasi RobPurbaya Lantik Robert Leonard Marbun Jadi Sekjen Kemenkeu, Misi 'Orkestrator' APBN di Tengah Gejolak Global
Forum strategis yang melibatkan Bapperida Kabupaten Cirebon, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), serta Pemerintah Kabupaten Sumedang tersebut mengungkap satu kesimpulan penting: Perubahan iklim kini telah bertransformasi menjadi tantangan nyata bagi pemenuhan hak dasar pendidikan.
Ironi Ambulu: Saat Kurikulum Tunduk pada Pasang Surut Air Laut
Salah satu titik paling rentan yang menjadi sorotan dalam riset kolaboratif ini adalah SDN Ambulu 3 di Kecamatan Losari. Di sekolah dasar ini, kalender akademik tidak lagi sepenuhnya bisa dijalankan secara konvensional, melainkan harus berkompromi dengan siklus alam.
Setiap kali banjir rob merendam kawasan tersebut, halaman sekolah berubah menjadi genangan air laut, ruang kelas menjadi lembap, dan akses jalan utama lumpuh. Dampaknya langsung terasa pada fluktuasi angka kehadiran siswa yang merosot tajam setiap kali cuaca ekstrem melanda.
”Situasi di SDN Ambulu 3 menunjukkan bahwa dampak iklim sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan pendidikan anak-anak. Layanan pendidikan adalah tanggung jawab bersama,” ujar Dr. Irena, peneliti dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Tantangan di lapangan nyatanya tidak berhenti pada persoalan infrastruktur yang terendam. Krisis iklim global juga memukul sektor ekonomi keluarga nelayan setempat. Ketergantungan yang tinggi pada hasil laut membuat ketidakpastian pendapatan langsung berdampak pada pemenuhan kebutuhan sekolah anak-anak.
