– Fleksibilitas Kalender Akademik: Mengubah waktu belajar-mengajar secara dinamis dengan menyesuaikan siklus bulanan pasang-surut rob dan puncak cuaca ekstrem di pesisir Losari.
– Metode Pembelajaran Tangguh Bencana: Mengembangkan modul pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang siap pakai saat akses fisik ke sekolah terputus, disertai penguatan materi adaptasi perubahan iklim sejak dini.
– Kolaborasi Pendanaan Lintas Sektor: Mengintegrasikan anggaran perbaikan sarana pendidikan tidak hanya melalui Dinas Pendidikan, namun juga melibatkan Dinas Pekerjaan Umum dan Badan Penanggulangan Bencana.
Baca Juga:Episentrum Medis Ciayumajakuning: PMI Kota Cirebon Fokus Digitalisasi Stok Darah dan Mitigasi RobPurbaya Lantik Robert Leonard Marbun Jadi Sekjen Kemenkeu, Misi 'Orkestrator' APBN di Tengah Gejolak Global
Feiny Santosa, Deputy Program Director Development Priorities INOVASI, menekankan bahwa esensi dari ekosistem pendidikan yang berkeadilan adalah memberikan hak yang setara kepada mereka yang berada di ekosistem paling sulit.
”Semua anak, tanpa memandang latar belakangnya, baik laki-laki maupun perempuan, termasuk anak dengan disabilitas maupun dari keluarga kurang mampu, harus mendapatkan pembelajaran yang berkualitas,” jelas Feiny.
Ia menambahkan, keberhasilan ini menuntut perencanaan yang matang, inklusif, dan berorientasi pada hasil belajar siswa secara berkelanjutan. Kasus di ujung timur Kabupaten Cirebon ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan nasional.
Jika kemitraan antara Pemkab Cirebon, UPI, dan INOVASI ini mampu menelurkan model kebijakan yang efektif, Cirebon akan menjadi rujukan nasional dalam penyelamatan hak pendidikan di tengah krisis iklim global. Namun jika komitmen ini mengendur, janji manis “semua anak bisa sekolah” dikhawatirkan akan larut disapu air pasang Losari.(*)
