CIREBONINSIDER.COM — Bayang-bayang krisis air kembali mengancam lahan pertanian di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Menghadapi surutnya pasokan irigasi teknis di musim kemarau 2026, para petani di wilayah sentra produksi padi harus memutar otak agar sawah tak berujung puso.
Kondisi paling krusial terjadi di Kecamatan Kertajati. Di wilayah ini, sekitar 5.258 hektare tanaman padi yang berumur 45 hingga 75 hari—fase emas pembentukan bulir—sangat bergantung pada pasokan air buatan.
Di tengah ancaman gagal panen, sebuah gerakan bertahan hidup muncul dari bawah: mengubah bahan bakar pompa air dari BBM jenis Pertalite ke gas LPG 3 kilogram.
Baca Juga:BBWS Cimancis Sulap Biaya Pompa Air Petani Jadi Nol Rupiah dengan Teknologi SuryaAncaman Kekeringan 2026: Strategi Kementan Jaga Lumbung Pangan Jawa Barat Tetap Basah
Siasat Pangkas Biaya Hingga 85 Persen
Mengandalkan BBM untuk menyedot air tanah kini dirasa mencekik leher petani. Engkus Kusnadi, seorang petani asal Kertajati, membeberkan kalkulasi pahit di lapangan. Sebelum beralih ke gas, mesin pompa berdiameter tiga inci miliknya melahap hingga 26,4 liter Pertalite untuk beroperasi nonstop selama 24 jam.
”Sehari bisa habis Rp264 ribu hanya untuk beli Pertalite. Itu sangat berat bagi kami,” ungkap Engkus.
Titik balik terjadi saat mesin pompa air dimodifikasi menggunakan konverter gas tabung melon 3 kilogram. Hasilnya sangat signifikan. Untuk durasi operasional 24 jam yang sama, mesin pompa hanya menghabiskan 1,5 tabung LPG.
Dengan harga eceran gas bersubsidi tersebut, ongkos operasional meloncat turun menjadi sekitar Rp33 ribu per hari. Petani berhasil menghemat anggaran hingga Rp231 ribu saban hari—sebuah efisiensi biaya yang mencapai lebih dari 85 persen.
Respons DKP3 Majalengka dan Realitas Lapangan
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Majalengka, Gatot Sulaeman, menilai inovasi mandiri dari petani ini menjadi angin segar di tengah keterbatasan air permukaan.
Gatot mencatat, total luas tanaman padi di Kabupaten Majalengka saat ini mencapai 39.550,94 hektare. Menjaga tingkat produktivitas lahan seluas itu di tengah kemarau membutuhkan respons yang cepat dan efisien.
”Penggunaan pompa air berbahan bakar LPG menjadi alternatif nyata untuk menekan biaya operasional saat petani harus mengoperasikan mesin hampir sepanjang hari,” ujar Gatot di Majalengka.
