Meski mendukung inovasi hemat biaya ini, pihak DKP3 mengingatkan agar langkah darurat tersebut diimbangi dengan tata kelola air yang adil dan efisien.
”Kami mengimbau petani tetap berkoordinasi dengan penyuluh lapangan, memanfaatkan sumber air secara bergiliran, serta menerapkan pola irigasi yang efisien agar produksi padi tetap terjaga,” tegasnya.
Sisi Lain: Regulasi dan Edukasi Keamanan
Di balik efisiensi angka yang menggiurkan, maraknya penggunaan LPG 3 kg untuk mesin pertanian menyimpun dua catatan penting yang perlu disikapi secara berimbang:
Baca Juga:BBWS Cimancis Sulap Biaya Pompa Air Petani Jadi Nol Rupiah dengan Teknologi SuryaAncaman Kekeringan 2026: Strategi Kementan Jaga Lumbung Pangan Jawa Barat Tetap Basah
– Distribusinya Harus Tepat Sasaran: LPG 3 kg merupakan barang subsidi. Meski pemerintah mendukung program konversi energi untuk petani sasaran, penggunaan kit rakitan mandiri perlu pengawasan agar tidak memicu kelangkaan gas di tingkat rumah tangga.
– Faktor Keselamatan Kerja: Penggunaan konverter rakitan pada mesin pompa ruang terbuka berisiko kebocoran akibat paparan panas matahari atau getaran mesin. Petani diimbau memastikan regulator dan selang yang digunakan memenuhi standar keamanan minimum.
Inovasi konversi gas ini membuktikan daya tahan dan daya cipta petani lokal dalam merespons tantangan iklim. Namun, ketergantungan pada pompa air juga menjadi alarm penting bagi percepatan modernisasi infrastruktur irigasi permanen di wilayah rawan kekeringan seperti Majalengka.(*)
