CIREBONINSIDER.COM – Peta demografi Indonesia tengah mengalami pergeseran besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Generasi Z kini mendominasi dengan jumlah mencapai 74,93 juta jiwa. Angka fantastis ini setara dengan 27,94 persen dari total populasi, menjadikan mereka mesin utama penggerak ekonomi nasional.
Namun, di balik kekuatan finansial mandiri yang kini didekap oleh 66 persen populasi Gen Z, muncul perilaku konsumsi yang kontras dibanding generasi sebelumnya. Generasi ini mulai melakukan “perceraian massal” dengan minuman tinggi gula.
Runtuhnya Takhta Minuman Manis
Laporan pemantauan tren dari survei Jakpat periode Desember 2024 hingga akhir 2025 menunjukkan anomali signifikan. Jika sebelumnya minuman manis menjadi identitas tongkrongan, kini frekuensinya merosot tajam.
Baca Juga:Teja Paku Alam Menuju Rekor Legendaris, PERSIB Kian Kokoh di Puncak KlasemenMenakar Kinerja Pemkab, DPRD Kabupaten Cirebon Siapkan Agenda Uji LKPj 2025 di April 2026
Data menunjukkan hanya 3 persen anak muda yang masih setia mengonsumsi minuman manis lebih dari tiga kali sehari pada 2025, terjun bebas dari angka 8 persen di tahun sebelumnya. Bahkan, kelompok yang sudah jarang atau sama sekali tidak mengonsumsi gula kini menyentuh angka 16 persen.
Fenomena ini bukan sekadar tren kesehatan sesaat, melainkan pergeseran gaya hidup sadar (conscious consumption) yang mulai mengubah lanskap bisnis pangan global.
​Peluang Emas di Balik US$ 12 Triliun
Kementerian UMKM melalui kanal digital resminya terus mendorong pelaku usaha untuk segera beradaptasi. Mengingat daya beli global generasi ini diprediksi menembus US$ 12 triliun pada 2030, relevansi produk menjadi harga mati bagi UMKM lokal.
Meski teh manis (65%) dan kopi manis (56%) tetap menjadi primadona karena faktor harga, namun narasi “kesehatan” kini menjadi nilai tawar utama.
Pelaku UMKM tidak perlu menghapus menu lama, melainkan wajib memberikan opsi modifikasi kadar gula yang lebih transparan.
​Strategi Adaptasi: Menjadi Relevan atau Tergilas
Untuk memenangkan hati Gen Z yang memiliki literasi digital tinggi, promosi produk haruslah transparan dan solutif. Teknik pemasaran yang hanya mengandalkan rasa “manis” mulai kehilangan taringnya.
Kementerian UMKM menyarankan para “Teman UMKM” untuk memperkuat branding melalui TikTok dan Instagram dengan menonjolkan sisi autentik dan manfaat sehat produk.
Baca Juga:Menuju Sensus Ekonomi 2026: Mengapa Gerakan ‘Indramayu Jujur Berdata’ Jadi Penentu Nasib UMKM?Gebrak Jabar, Duet KDM-Maruarar Sirait Luncurkan 'Tender Rakyat' Bedah Rumah: UMKM Lokal Berjaya!
Bagi pelaku usaha kuliner, data ini adalah kompas: mereka yang mampu menyajikan kemudahan akses dengan standar kesehatan tinggi, dipastikan akan memenangkan persaingan di pasar yang semakin padat. (*)
