Putus Ketergantungan Energi Fosil, Indonesia Pacu Hilirisasi Perkebunan Skala Besar di 2026

Mentan-Andi-Amran-Sulaiman
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan arahan strategis hilirisasi perkebunan untuk kedaulatan energi nasional dalam transformasi ekonomi 2026. Foto: Humas Kementan RI

CIREBONINSIDER.COM– Pemerintah Indonesia secara resmi menabuh genderang perang terhadap ketergantungan energi impor dengan mempercepat hilirisasi sektor perkebunan secara masif.

Langkah ini diposisikan sebagai tulang punggung baru kedaulatan energi nasional di tengah tensi geopolitik global yang tak menentu pada kuartal kedua 2026.

​Visi besar ini menjadi manifestasi nyata kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan kemandirian ekonomi sebagai harga mati.

Baca Juga:Guncangan Energi Global 2026: J.P. Morgan Ungkap Alasan Indonesia Jadi Negara Paling 'Kebal' Nomor 2 di DuniaKonservasi Ekstrem: Jabar Ubah 200 Hektare Kebun Sayur PTPN di Puncak Jadi Perkebunan Teh dan Bambu

Subsektor perkebunan kini bertransformasi; bukan lagi sekadar lumbung bahan mentah untuk pasar ekspor, melainkan motor penggerak utama rantai pasok energi baru terbarukan (EBT) berbasis kearifan lokal.

​Mentan Amran: Komoditas Lokal Harus Naik Kelas

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa orientasi pembangunan perkebunan kini bergeser total ke arah industri pengolahan bernilai tambah tinggi (high-value added).

Transformasi ini bertujuan agar setiap tetes keringat petani memberikan dampak ekonomi yang berlipat ganda bagi domestik.

​”Hasil perkebunan kita harus naik kelas. Paradigma lama yang hanya menjual bahan mentah harus kita tinggalkan. Kita olah menjadi produk turunan strategis, terutama bioenergi. Ini adalah instruksi langsung Bapak Presiden untuk memastikan kedaulatan energi nasional kita terjaga,” tegas Mentan Amran saat memberikan keterangan di Jakarta, Jumat (24/4/2026).

​’Emas Hijau’: Sawit, Tebu, hingga Singkong Jadi Pilar Biofuel

Pemerintah kini memetakan sejumlah komoditas strategis seperti kelapa sawit, tebu, jagung, hingga singkong sebagai “emas hijau” Indonesia.

Komoditas ini diarahkan untuk memperkuat bauran energi nasional melalui optimalisasi biodiesel dan bioetanol, yang diproyeksikan mampu memangkas defisit neraca dagang akibat impor BBM secara drastis.​Di sisi hulu, penguatan dilakukan secara sistematis.

Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) terus digenjot untuk meningkatkan produktivitas tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan melalui sertifikasi ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil).

Baca Juga:Dinas Pertanian Cirebon Luncurkan Asuransi Mikro, Lindungi Petani dari Risiko Jiwa dan PermodalanDunia di Ambang Kelaparan Akut, Mentan Amran: Swasembada Harga Mati, Kita Putar Dunia!

Sementara itu, di sektor gula, pemerintah menargetkan perluasan areal tanam tebu hingga 200.000 hektare guna mengejar swasembada sekaligus memasok bahan baku bioetanol secara berkelanjutan.

​Dampak Ekonomi: Multiplier Effect bagi Petani

​Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Ali Jamil, menambahkan bahwa hilirisasi ini bukan sekadar proyek industri besar, melainkan upaya menciptakan kesejahteraan yang inklusif.

0 Komentar