Kemanusiaan Lampaui Batas Pulau: Kisah Salman dan Mudaris Bangkitkan Desa Terisolasi di Sumatera Utara

Relawan-Mapalangir-STID-ALBIRUNI-Cirebon
Prosesi pemakaian kain Ulos kepada relawan Cirebon Salman dan Mudaris oleh warga Dusun Hutaraja Tapanuli Tengah sebagai simbol persaudaraan. Foto: Istimewa/STID Al Biruni Cirebon

CIREBONINSIDER.COM– Ikatan batin yang terjalin antara warga Dusun Hutaraja dan dua pemuda asal Cirebon membuktikan bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas geografis.

Setelah hampir lima bulan mendedikasikan diri dalam misi kemanusiaan pascabencana, Salman “Nesting” dan Mudaris “Hendel” resmi berpamitan dari Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Minggu (26/4/2026).

​Kedua relawan dari Mapalangit Biru STID Al Biruni Cirebon yang tergabung dalam Satgas Kebencanaan FK-KBPA-BR (Bandung Raya) ini, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan warga Desa Sait Kalangan II sejak Desember 2025 lalu.

Baca Juga:Negara 'Gaji' Petani Korban Bencana: Strategi Mentan Amran Pulihkan 98 Ribu Hektare Sawah di SumateraMentan Amran Siapkan Rp6,5 Triliun ‘Operasi Darurat’ Pulihkan Lumbung Pangan Sumatera

​Simbol Ulos: Dari Relawan Menjadi Keluarga

​Momen perpisahan yang berlangsung di Dusun Hutaraja tersebut diwarnai suasana haru yang mendalam. Sebagai bentuk penghormatan tertinggi dalam budaya Batak, warga menyematkan kain Ulos kepada Salman dan Mudaris.

Pemberian ini bukan sekadar cendera mata, melainkan pernyataan sikap bahwa keduanya telah dianggap sebagai bagian dari silsilah keluarga besar masyarakat setempat.

​Ketua Pos Masyarakat Penanganan Bencana (PMPB) HUNTAR, Jonter Simatupang, menegaskan bahwa hubungan ini telah melampaui status relawan dan penyintas.

​“Tetap sehat selalu untuk relawan dan keluarganya. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, tapi bukan berarti kita saling melupakan. Kalian sudah bukan lagi relawan, tapi sudah menjadi keluarga kami. Aku tulang-mu, kalian bere-ku (Aku pamanmu, kalian keponakanku). Horas!” tegas Jonter dengan nada penuh emosi.

​Jejak Pengabdian di Desa Terisolasi

​Perjalanan Salman dan Mudaris di bumi Tapanuli bukanlah hal yang mudah. Sejak tiba pascabencana akhir tahun lalu, mereka menghadapi keterbatasan akses di Dusun Hutaraja yang sempat terisolasi.

Selama 150 hari lebih, mereka mendampingi 43 kepala keluarga untuk bangkit, baik secara infrastruktur maupun pemulihan psikososial.

​Kehadiran mereka di bawah payung FK-KBPA-BR memberikan dampak nyata pada terbentuknya PMPB HUNTAR (Hutaraja Haramonting), sebuah wadah swadaya masyarakat yang kini menjadi garda terdepan dalam mitigasi bencana mandiri di desa tersebut.

Baca Juga:Belajar dari Tragedi Sumatera, Gubernur Dedi Mulyadi Targetkan 'Revolusi Hijau' di Lereng Gunung JabarDPRD Kabupaten Cirebon Soroti Rapor Merah Bencana dan Nasib 193 Ribu Warga tanpa BPJS

​Relawan senior GPA Bandung, Mang Achil, yang terus memantau pergerakan tim di lapangan, menitipkan pesan singkat namun sarat makna bagi kedua juniornya. “Tetap jaga kesehatan, selamat sampai tujuan,” ujarnya.

0 Komentar