CIREBONINSIDER.COM – Badan Gizi Nasional (BGN) resmi merangkul Japan International Cooperation Agency (JICA) untuk memperkuat tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Melalui kolaborasi strategis ini, Indonesia mengadopsi sistem makan sekolah dari Jepang yang telah teruji dan berkembang selama lebih dari 100 tahun.
Langkah ini menandai pergeseran paradigma besar. Jika sebelumnya program MBG identik dengan sekadar pembagian piring makanan di meja siswa, kini arahnya diubah total menjadi kurikulum pembentukan karakter dan budaya gizi anak.
Baca Juga:BGN dan BKN Matangkan Formasi ASN, Siapkan Ribuan SDM Teknis Pengawal Gizi Nasional ke TapakBGN Kunci Celah Keracunan Massal, Rem Standar Ketat Makan Bergizi Gratis Resmi Diterapkan
Shokuiku: Makanan sebagai Kurikulum Kehidupan
Jepang mempopulerkan konsep Shokuiku—pendidikan pangan dan gizi berbasis pengalaman langsung.Di Negeri Sakura, jam makan siang bukan sekadar aktivitas mengisi perut.
Kegiatan makan disulap menjadi ruang kelas nyata. Siswa diajarkan mengenali asal-usul bahan makanan, menghargai kerja keras petani, hingga dilatih mandiri lewat piket menyajikan makanan.
Deputi Sistem dan Tata Kelola BGN, Prima Yosephine Berliana Tumiur Hutapea, menegaskan esensi inilah yang ingin diserap Indonesia.
”Kami tidak hanya ingin mempelajari aspek penyediaan makanannya, tetapi juga memahami bagaimana kegiatan makan dapat terhubung dengan pendidikan pangan dan gizi bagi siswa,” ujar Prima dalam audiensi bersama JICA di Jakarta.
Model Dapur dan Rantai Pasok Lokal
Sistem makan sekolah di Jepang ditopang oleh dua skema utama: dapur mandiri di sekolah atau fasilitas dapur terpusat (Central Kitchen).
BGN mencermati kedua skema ini untuk disesuaikan dengan konteks geografis Indonesia yang sangat beragam. Tantangan di Tanah Air tidak main-main—mulai dari kesiapan dapur daerah, kesenjangan komoditas lokal, hingga efisiensi distribusi.
Sebab itu, BGN memastikan tidak akan menelan bulat-bulat praktik dari Jepang. Adaptasi sesuai kondisi lapangan menjadi kunci utama.
Baca Juga:Purbaya Dipecat via Telepon: Kalah Akses, Drama 4 Hari, dan Beban Anggaran MBGUji Organoleptik dan 8 Kebiasaan Baik, Peran Kunci Guru Cegah Keracunan MBG di Sekolah
”Tentunya tidak seluruh praktik dapat diterapkan secara langsung. Esensi dan pembelajarannya dapat kita kaji untuk melihat apa yang relevan dengan kebutuhan dan karakteristik penyelenggaraan MBG di Indonesia,” jelas Prima.
Tiga Pilar Utama Transformasi MBG
Penerapan hasil pembelajaran dari Jepang ini diproyeksikan memperkuat tiga aspek krusial program MBG:Pendidikan Karakter NyataMakan bersama melatih disiplin, pola hidup bersih, dan empati antar sesama siswa sejak dini.
