4 Pilar Penjaga Stabilitas Ekonomi Daerah
Pengendalian ekonomi Ciayumajakuning kini ditopang oleh empat langkah konkret di lapangan:
Pertama, Menjaga Keterjangkauan Harga: Penetrasi langsung MOL PANGLING dan Operasi Pasar hadir memicu stabilitas daya beli masyarakat sekaligus menekan laju inflasi bulanan.
Kedua, Memastikan Ketersediaan Pasokan: Penyerahan bantuan sarana dan prasarana kepada kelompok tani dikencangkan guna mengamankan kapasitas produksi lokal dari hulu.
Baca Juga:Lawan Stunting dan Inflasi, DKPP Cirebon Tebar Pangan Murah dan Protein PesisirBanting Harga di Kebon Pelok! Pemkot Cirebon Gempur Inflasi Lewat Pangan Murah Ke-21
Ketiga, Melancarkan Distribusi Logistik: Penguatan skema KAD lintas wilayah difokuskan untuk mencegah hambatan pasokan menjelang potensi cuaca ekstrem dan momen Hari Besar Keagamaan Nasional.
Keempat,nMengakselerasi Digitalisasi Daerah: Optimalisasi Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) mendorong transparansi tata kelola keuangan sekaligus mempermudah akses transaksi non-tunai bagi publik.
Transformasi Digital dan Tantangan Musiman Akhir Tahun
Memasuki paruh kedua 2026, ketahanan rantai pasok dibarengi dengan percepatan digitalisasi transaksi daerah. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis, menekankan pentingnya sinergi terintegrasi antar-wilayah.
”Tantangan stabilitas harga, ketahanan pangan, dan transformasi digital tidak dapat diselesaikan oleh satu daerah saja, sehingga membutuhkan sinergi dan langkah yang terintegrasi,” terang Wihujeng.
Ia menambahkan bahwa perluasan digitalisasi bukan sekadar adopsi teknologi, melainkan fondasi tata kelola yang berdampak langsung ke publik.
”Digitalisasi bukan hanya soal penggunaan teknologi, tetapi bagaimana teknologi tersebut memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pemerintah daerah,” pungkasnya.(*)
