​Gurihnya Bisnis Susu Sapi Nasional, Peluang Raksasa di Tengah Defisit Pasokan 80 Persen

Ilustrasi-Peternak-Sapi-Lokal
Peternak sapi perah lokal sedang memerah susu sapi segar berkualitas untuk memenuhi kebutuhan industri susu nasional. Foto: Ilustrasi/AI

CIREBONINSIDER.COM — Pasar susu sapi segar di Indonesia menyimpan potensi bisnis yang luar biasa gurih. Namun, di balik peluang emas tersebut, tersimpan ironi besar: peternak lokal dan industri dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.

​Kesenjangan antara konsumsi dan produksi dalam negeri masih sangat melebar. Situasi ini membuka keran impor yang lebar, sekaligus meninggalkan pekerjaan rumah besar bagi ketahanan pangan nasional.

​Defisit Kronis: Impor Menguasai 80 Persen Pasar

​Kebutuhan susu segar di pasar domestik diperkirakan mencapai 4 juta liter per tahun. Sayangnya, pasokan dari Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) baru sanggup menutup sekitar 20 persen dari total permintaan tersebut.

Baca Juga:Menilik "Doa Ibu", Sapi 1 Ton Milik Presiden Prabowo di Cirebon dan Aturan Ketat SKKH Iduladha 2026Persib Hattrick Juara Super League: KDM Beri Bonus Rp1 M dari Hasil Sapi, GBLA Bakal Punya Museum!

​Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi susu sapi segar nasional pada 2023 berada di angka 837.223,20 ton. Angka ini memang naik tipis dibandingkan 2022 yang sebesar 824.273,20 ton.

​Namun, jika ditarik garis rentang waktu lebih panjang, produksi nasional sebenarnya mengalami penurunan.​Pada rentang 2016 hingga 2021, produksi susu sapi segar Indonesia konsisten berada di atas 900.000 ton per tahun. Wabah penyakit ternak dan keterbatasan populasi sapi perah menjadi faktor utama penahan laju produksi dalam dua tahun terakhir.

​Konsumsi Indonesia Masih Tertinggal di ASEAN

​Rendahnya produksi dalam negeri berbanding terbalik dengan proyeksi lonjakan permintaan di masa depan. Konsumsi susu per kapita masyarakat Indonesia diprediksi bakal terus merangkak naik seiring meningkatnya kesadaran gizi.

​Meski demikian, angka konsumsi masyarakat Indonesia saat ini masih tertinggal jauh jika dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara.

​Data BPS menunjukkan, tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia baru mencapai 16,27 kg per kapita per tahun.

​Angka ini kalah jauh dari Thailand yang mencatatkan konsumsi 22,2 kg, Malaysia sebesar 26,2 kg, hingga Myanmar yang melesat di angka 26,7 kg per kapita per tahun.

​Peluang Emas Peternak Lokal dan Investor

​Tingginya jurang pemisah (gap) sebesar 80 persen antara kebutuhan dan produksi lokal menandakan satu hal: ruang pertumbuhan bisnis peternakan sapi perah di Indonesia sangat terbuka luas.

Baca Juga:Belajar dari Efek Telur, Badan Gizi Nasional Ogah Paksa Menu Sapi Serentak: Takut Harga Pasar Jebol!Tips Beli Hewan Kurban, Ini 7 Hal Penting yang Harus Diperhatikan sebelum Beli Sapi atau Kambing

​Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Pangan terus mendorong penguatan sektor hulu. Langkah strategis yang krusial mencakup:

0 Komentar