Belajar dari Efek Telur, Badan Gizi Nasional Ogah Paksa Menu Sapi Serentak: Takut Harga Pasar Jebol!

Kepala-BGN-Dadan-Hindayana
Kepala BGN Dadan Hindayana saat menjelaskan simulasi kebutuhan daging sapi di SPPG Bekasi. Foto: Humas BGN

CIREBONINSIDER.COM – Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya blak-blakan mengenai kompleksitas logistik di balik Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Di tengah sorotan publik soal kebutuhan fantastis 19.000 ekor sapi, pemerintah memilih langkah realistis: menghindari penyeragaman menu demi menyelamatkan “dompet” rakyat dari ancaman inflasi.

​Kepala BGN, Dadan Hindayana, menegaskan bahwa angka belasan ribu ekor sapi tersebut hanyalah sebuah simulasi matematis. Bukan instruksi harian yang akan dieksekusi secara serentak di seluruh Indonesia.

Baca Juga:Marak Keracunan, MBG Bisa Jadi Bom Waktu? Komisi IX DPR Sentil Manajemen ‘Setengah Matang’!Uji Kelayakan MBG Cirebon, 24 Satuan Pelayanan Gizi Belum Kantongi Sertifikat Higiene

Matematika Sapi: Satu SPPG, Satu Ekor

Dalam kalkulasi teknisnya, satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) rata-rata membutuhkan 350 hingga 382 kilogram daging sapi untuk satu kali proses memasak. Jumlah tersebut setara dengan bobot daging dari satu ekor sapi utuh.

​”Ini hanya pengandaian. Jika seluruh SPPG diperintahkan memasak daging sapi di hari yang sama, tinggal dikalikan saja jumlah SPPG dengan satu ekor sapi. Tapi dalam praktiknya, kita punya pilihan protein lain seperti telur, ayam, dan ikan,” ujar Dadan usai meresmikan SPPG Pemuda Muhammadiyah di Bekasi, Selasa (21/4/2026).

Trauma ‘Efek Telur’ 17 Oktober

Keputusan BGN untuk tidak menyeragamkan menu nasional didasari oleh pengalaman pahit pada medio Oktober lalu. Saat peringatan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto, penyajian menu nasi goreng telur untuk 36 juta penerima manfaat ternyata mengguncang stabilitas harga nasional.

Data lapangan menunjukkan fakta mengejutkan:

– ​Konsumsi Masif: 36 juta butir telur (setara 2.200 ton) ludes hanya dalam satu hari.

– ​Shock Pasar: Harga telur di pasar tradisional seketika melonjak hingga Rp3.000 per kilogram.

​”Dampaknya nyata. Jika untuk telur saja harga bisa naik sedemikian rupa, kita bisa bayangkan tekanan yang terjadi jika kita memaksakan menu daging sapi secara serentak di seluruh Indonesia. Harga daging bisa tak terkendali,” ungkap Dadan.

​Lokalitas Sebagai Katup Penyelamat

Menyikapi risiko tersebut, BGN kini mengadopsi taktik Fleksibilitas Berbasis Domestik. Strategi ini dirancang untuk dua tujuan utama: menjaga daya beli masyarakat dan menghidupkan ekonomi daerah melalui tiga pilar utama:

Baca Juga:Sains di Balik Program MBG: BGN Gandeng Korea Kembangkan Inovasi Pangan BerkelanjutanViral 70 Ribu Motor BGN Ternyata Hoaks, Dadan Hindayana Ungkap Fakta Armada MBG untuk Daerah

– ​PERTAMA, Desentralisasi Menu: Menu tidak lagi ditentukan dari pusat, melainkan menyesuaikan dengan komoditas unggulan di daerah masing-masing.

0 Komentar