Penerapan PM-AAS ini secara otomatis mendobrak batas lama sawah konvensional. Jika dulu rata-rata hasil panen mandek di angka 5 ton gabah per hektare dengan kualitas output yang variatif, kini lewat sentuhan teknologi modern, produktivitas langsung melejit hingga 100 persen ke angka 10 hingga 12 ton per hektare dengan kualitas premium berstandar global yang siap ekspor.
Strategi Swasembada Berjenjang: Target Tiap Desa Mandiri
Belajar dari trauma krisis global dan masa pandemi Covid-19—di mana negara-negara produsen cenderung menutup pintu ekspor demi mengamankan perut rakyatnya sendiri—Prabowo tidak ingin capaian PM-AAS ini hanya menjadi tren sesaat.
Pemerintah tengah menyiapkan cetak biru desentralisasi pangan guna memastikan rantai pasok dalam negeri tetap kokoh dari hulu ke hilir melalui tiga strategi utama:
Baca Juga:Ironi di Balik Status Lumbung Padi, Petani Indramayu Terjerat ‘Guremisasi’ Lahan 0,4 HektarTembus 13,92 Ton per Hektare, Produktivitas Padi Juntinyuat Indramayu Pecahkan Rekor Lokal
– Intensifikasi & Ekstensifikasi Lahan: Memaksimalkan pemanfaatan lahan baku yang ada sekaligus memperluas kawasan pertanian baru dengan dukungan sistem pengairan yang teratur.
– Diversifikasi Komoditas (Hilirisasi): Penguatan tidak hanya bertumpu pada beras atau jagung, melainkan merambah ke singkong, kedelai, gula, sorgum, hingga sagu yang melimpah di atas tanah air.
– Swasembada Berjenjang: Melakukan sosialisasi masif agar teknologi PM-AAS diadopsi merata di seluruh daerah, bukan sekadar menjadi etalase pameran.
”Ini kita ingin supaya disosialisasikan, diajarkan ke semua daerah. Kita mau tiap desa bisa swasembada, tiap kecamatan swasembada, tiap kabupaten swasembada, tiap provinsi swasembada minimal. Kalau bisa provinsi produksi untuk ekspor,” pungkasnya.(*)
