CIREBONINSIDER.COM — Kelurahan Argasunya di Kecamatan Harjamukti selama ini kerap kali diidentifikasi dalam lembaran data statistik sebagai wilayah dengan kantong kemiskinan tertinggi di Kota Cirebon. Namun, paradigma pinggiran yang marjinal tersebut kini tengah dicoba didekonstruksi dari dalam.
Pondok pesantren, yang selama ini menjadi benteng spiritualitas, kini didorong bertransformasi menjadi episentrum baru kemandirian ekonomi kerakyatan.
Ikhtiar tersebut mengejawantah nyata dalam program Upskilling UMKM Pondok Pesantren Jawa Barat yang digelar di Pondok Ilmu Derma Agung (PIDERMA), Kelurahan Argasunya, Kota Cirebon, pada Kamis (25/6/2026).
Baca Juga:Aturan Baru E-Commerce Segera Terbit, Pemerintah Siap Tertibkan Platform yang Cekik Seller UMKMKemen UMKM Buka Keran Dana Rp70 M, Pelaku Usaha Menengah Bisa Ajukan Modal hingga Rp20 M
Langkah strategis ini mengintegrasikan sinergi lintas sektor, mulai dari korporasi energi hulu hingga jajaran menteri dan pemerintah daerah.
Hadir langsung di tengah-tengah para pengasuh dan santripreneur, Wali Kota Cirebon Effendi Edo menegaskan bahwa modernisasi pesantren tidak boleh hanya berhenti pada perbaikan mutu pendidikan formal maupun keagamaan.
Di tengah disrupsi pasar yang kian dinamis, pesantren dituntut mengakar secara finansial agar tidak terus-menerus bergantung pada eksternalitas bantuan.
”Pesantren di Kota Cirebon, khususnya di wilayah strategis seperti Argasunya, telah membuktikan diri melahirkan generasi berakhlak mulia. Namun sekarang, tantangannya adalah menyuntikkan fondasi ekonomi yang sehat. Berbagai unit usaha di lingkungan pesantren wajib dikelola secara profesional, produktif, serta responsif terhadap dinamika zaman,” ujar Effendi Edo, Wali Kota Cirebon.
Mengisi Celah Fundamental: Dari HPP Hingga Digitalisasi
Upaya memandirikan pesantren di wilayah dengan tantangan sosio-ekonomi tinggi seperti Argasunya membutuhkan instrumen konkret, bukan sekadar orasi seremonial.
Oleh karena itu, kolaborasi antara PT Pertamina EP Zona 7, SKK Migas, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), serta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) difokuskan pada penguatan literasi bisnis esensial.
Wali Kota Cirebon mengapresiasi kurikulum pelatihan yang menyasar langsung problem hulu pelaku usaha mikro pesantren.
Baca Juga:Gema Istiqlal: IKTASA Perkuat Poros Alumni Pesantren di Tengah Transformasi Ditjen PesantrenHKI Resmi Jadi Agunan KUR 2026, Pemerintah Kucurkan Rp10 Triliun untuk UMKM Kreatif!
Materi tidak hanya mengawang pada teori makro, melainkan menyentuh teknis vital: penghitungan Harga Pokok Penjualan (HPP) yang akurat, pemetaan segmentasi pasar, hingga taktik pemanfaatan digital marketing untuk menembus batas geografis wilayah.
“Kemampuan fundamental seperti menghitung biaya produksi secara presisi dan mengeksploitasi teknologi digital adalah senjata utama UMKM pesantren untuk naik kelas dan kompetitif. Kami berharap momentum ini menjadi titik balik bagi ekosistem ekonomi lokal,” imbuh Effendi Edo.
