Ia juga menegaskan komitmen Pemkot Cirebon dalam menjamin regulasi dan iklim usaha yang kondusif pasca-pelatihan.
Menggali Potensi Riil Akar Rumput
Pemilihan PIDERMA Argasunya sebagai titik kumpul gerakan ini membawa pesan simbolis sekaligus taktis yang kuat. Pengurus Pondok Pesantren PIDERMA, Gus Hanif, memaparkan bahwa kolaborasi ini menjadi angin segar yang mempercepat akselerasi unit-unit usaha yang selama ini dirintis secara swadaya oleh para santri dan masyarakat sekitar.
”Kami ingin memutus mata rantai ketergantungan. Harapan besar kami adalah melahirkan santripreneur yang tidak hanya fasih membaca kitab, namun juga tangguh membaca peluang pasar dan menguasai instrumen digital saat mereka kembali mengabdi di masyarakat,” ungkap Gus Hanif, Pengurus Ponpes PIDERMA Argasunya.
Baca Juga:Aturan Baru E-Commerce Segera Terbit, Pemerintah Siap Tertibkan Platform yang Cekik Seller UMKMKemen UMKM Buka Keran Dana Rp70 M, Pelaku Usaha Menengah Bisa Ajukan Modal hingga Rp20 M
Gus Hanif membeberkan, potensi komoditas ekonomi di akar rumput pesantren Jawa Barat sebenarnya sangat melimpah dan variatif. Mulai dari industri kreatif kuliner seperti pengolahan keripik usus, sektor perikanan air tawar intensif (budidaya ikan nila, gurami, dan lele), hingga sektor peternakan komersial seperti kambing dan ayam potong.
(Fakta Lapangan: Kelurahan Argasunya memiliki ruang geografis yang luas namun menantang secara ekonomi. Optimalisasi lahan pesantren untuk budidaya komoditas pangan dinilai para pakar sebagai solusi ganda: mengatasi stunting lokal sekaligus mendongkrak pendapatan domestik.)
Tantangan terbesar selama ini terletak pada standardisasi tata kelola (management) dan keberlanjutan pasar. Kehadiran akademisi, praktisi bisnis, serta pendampingan berkesinambungan yang diinisiasi oleh PT Pertamina EP Zona 7 diharapkan mampu menjadi jembatan (bridge) penyelesaian masalah tersebut.
Melalui integrasi program upskilling yang terstruktur dan lepas dari pola plagiarisme narasi lama, model pemberdayaan di Argasunya ini diproyeksikan menjadi cetak biru (blueprint) baru bagi kemandirian ekonomi berbasis pesantren di Jawa Barat. Sebuah pembuktian bahwa dari titik paling pinggiran sekalipun, kemandirian bangsa bisa digerakkan.(*)
